Jumat, 30 Agustus 2013

Thare: Bab1-Kita Tidak Sendiri

Kututup buku itu. Nishimura Taiki, nama yang aneh dan asing yang tidak pernah kudengar. Tidak seperti namaku, Elizabeth. Namanya memiliki kekhasan tersendiri yang membuat banyak orang mengingatnya. Dosenku mengatakan kalau buku ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu dan sudah di tulis berulang kali. Buku yang asli terdapat di museum sekarang. Buku ini merupakan bukti nyata bahwa sebenarnya memang ada ras lain selain manusia. Akan tetapi, sekarang ini banyak yang berpikir bahwa itu bukanlah hal yang benar-benar terjadi. Lagipula, orang yang menulis buku ini—Nishimura—pasti sudah tidak ada dan sudah meninggal.
            Aku menatap ke atas, melihat berkas-berkas cahaya yang menembus daun-daun rindang yang melindungiku dari sinar matahari. Cuaca yang asri, segar, membuat banyak orang datang ke taman ini, duduk di bawah pohon sepertiku, dan membaca, atau tidur, atau bahkan berpacaran, hal yang tidak kusuka. Aku lebih suka membaca buku, mengetahui sejarah, mengenal orang-orang, atau yang paling kuinginkan adalah menemukan ras-ras lain seperti yang tertulis dalam buku ini.
            Entah, buku ini dongeng atau tidak. Kalau ini merupakan dongeng, aku ingin dongeng ini menjadi kenyataan, dengan begitu kita akan hidup di dunia penuh dengan ras yang beragam dan tidak hanya ada manusia saja. Aku percaya, kalau ada dunia lain di luar sana, dunia yang tidak ada manusia sama sekali. Aku memejamkan mata, berusaha untuk tertidur agar masuk ke dalam mimpi yang penuh dengan ras tersebut.
            Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh dahiku. Aku, yang sedang berkhayal bertualang di dalam dunia yang penuh dengan ras, langsung segera menghindar ke samping, melihat ke arah datangnya suhu dingin tersebut.
            “Kau tidak perlu kaget seperti itu, Elly. Ini hanya jus Manda,” kata orang tersebut.
            Manda—buah yang tumbuh di dalam tanah, akarnya mencari air yang dingin sehingga membuat batangnya menjadi dingin. Kedinginan ini bukannya membuat tumbuhan tersebut membeku, tapi justru memiliki air yang sangat dingin yang dapat memberikan kesegaran di tengah teriknya matahari. Bentuk buah ini melonjong kerucut. Akarnya dapat digunakan sebagai makanan tambahan.
            Ia kemudian menyeruput jus itu. Jus Manda adalah campuran air dengan badannya secara langsung. “Ini pesananmu Elly. Bomsandwich.”
            “Terima kasih, Mary.” Mary adalah temanku, teman baikku sejak aku kecil. Aku selalu bersama dengannya, tidak mau meninggalkannya. Aku mengambil Bomsandwich tersebut, ini adalah sebuah roti yang terlihat setengah lingkaran kalau dilihat dari samping, warnanya coklat kematangan membuatnya terlihat begitu nikmat. Di puncak roti tersebut, isi-isi roti itu mencuat seakan meledak di ujung. Dari luar yang terlihat hanyalah sebuah roti dengan sedikit daging di puncaknya. Akan tetapi begitu dibuka dalamnya, terdapat berbagai macam isi seperti, daging cincang, sayur-sayuran seperti daun, dan juga mentimun. Semuanya ada di dalam roti tersebut. Aroma yang dikeluarkan pun sangat menyegarkan, membuat semua orang menjadi lapar.

           “Kau senang sekali makan Bomsandwich. Apa enaknya makanan itu?” tanya Mary seraya duduk di sebelahku.
            “Daripada kau, Mary. Makananmu dan minumanmu selalu itu-itu saja. Entah itu jus Manda yang kau pegang di tangan kirimu atau Spirainbow yang kau genggam di tangan kananmu itu.”
            Mary menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa. “Kau tidak tahu kenikmatan tiada tara dari kedua makanan ini. Spirainbow adalah makanan yang paling enak sepanjang masa!” Ia kemudian berdiri dan mulai berpuisi.

Roti silinder, yang ditusuk dengan kayu yang begitu indah.
Dibalutkan dengan pelangi yang begitu indah.
Kelembutan yang tiada tara,
Kenikmatan yang tiada banding.

Oh Spirainbow, dirimu dan diriku
Tidak akan terlepaskan
Tidak AKAN kulepaskan
Kau adalah nikmat duniaku

            Langsung ia memasukkan makanannya ke mulut, membelahnya sehingga terlihat tusuk kayu yang ada di dalamnya, dan mengunyahnya dengan muka yang begitu bahagia. “Wah, wah. Ternyata kau jadi semakin sering berpuisi ya sekarang. Tapi ada hal yang harus kau tahu, Mary. Itu tidak dibalut oleh pelangi, itu hanyalah gula berwarna berbentuk seperti pelangi yang mengelilingi roti itu.”
            “Ah, kau ini terlalu ilmiah. Aku benci dengan keilmiahan mu itu. Lagipula tidak ada salahnya aku berpuisi sedikit.”
            “Aku? Ilmiah? Padahal kau sendiri yang masuk ke dalam ilmu fisika dan ingin mengetahui kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. Sedangkan aku? Aku hanya masuk ke dalam jurusan sejarah. Aku tidak ilmiah, kamu lah yang lebih ilmiah Mary-ku tersayang.”
            Mary kemudian kembali duduk. “Sudahlah, sulit kalau aku harus berdebat denganmu.”
            Aku pun hanya tertawa kecil. Mary memiliki perawakan yang cantik, memesona bagi banyak pria. Ia berambut pirang, tinggi, seumuran denganku karena temanku sejak kecil, dan juga suka sekali berganti pacar. Tapi ia teman baikku, kami selalu bersama dan membagi pengalaman kami, kami sahabat yang bagaikan saudara.
            Mary tiba-tiba menyenggolku dengan sikunya. “Hei, Elly, lihat yang ada di seberang kita, ada pria yang sedang duduk sendiri di sana.”
            Aku melihat ke arah pria tersebut, ia sedang duduk sendiri membaca buku. Rambutnya hitam, ia memiliki postur badan yang bagus, terlihat tampan, dan melihatnya seperti itu, pasti ada banyak perempuan yang langsung jatuh hati kepadanya, termasuk Mary.
            “Bagaimana, tampan bukan?” Sudah kuduga, Mary akan bertanya seperti itu.
            “Lumayan. Apa kau mau mengincarnya? Bagaimana dengan pacarmu?”
            “Ah, aku sudah bosan dengannya, dia tidak menarik. Selalu saja berada di dalam rumah dan tidak ingin keluar, aku bosan dengannya.” Ya, Mary selalu seperti itu, seakan mempermainkan semua hati pria yang berkencan dengannya. Sebenarnya pria-pria tersebut juga salah, mau saja mereka termakan buaian dari Mary. “Akan kudekati dia, lihat ini.” Kemudian Mary berdiri dan mendekati pria tersebut. Ia memang pintar memainkan perkataan dan menggoda pria, ia seperti sudah ahli kalau melakukan hal tersebut.
            Kulihat kalau ia sedang berupaya mengajak bicara pria tersebut dengan berbagai macam kata, gaya yang sedikit sensual, bahkan sampai merangkulnya. Akan tetapi pria tersebut tidak menggubris apapun yang dilakukan Mary sama sekali. Akhirnya pria tersebut terlihat mengucapkan sepatah kata yang membuat Mary terkejut, sehingga Mary terlihat kebingungan dalam menghadapinya.
            Akhirnya Mary kembali dengan raut muka yang lesu dan menghela napas panjang walaupun ia sudah duduk di sebelahku. Ingin rasanya kutanya apa yang terjadi, tapi sepertinya jawabannya sudah jelas. Tiba-tiba Mary menarik kerahku dengan kedua tangannya sehingga aku bertatapan muka dengannya dan ia berkata, “Baru kali ini Elly…baru kali ini aku ditolak oleh seorang pria yang sepertinya mudah untuk kugoda!,” ia melepas genggamannya dan memandang ke atas seakan sedang memaki kepada langit, “Dengan nada yang dingin dia mengatakan, ‘Pergi, aku tidak mau melihatmu.’ Apa-apaan itu!” Ia langsung menunduk merasa seluruh dunia ini runtuh di depannya.
            Aku tidak tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang selalu sukses dalam menggoda pria, tiba-tiba gagal dengan perkataan seperti itu. Walaupun aku tidak setuju dengan sudut pandang Mary, tetap saja aku tidak senang dengan caranya menolak. Seharusnya ia bisa lebih halus menolak Mary daripada menolaknya dengan kata-kata yang menusuk hati. “Sudahlah Mary, mungkin ia memang tidak suka dengan perempuan, siapa tahu ia menyukai sesama jenis.” Aku mengatakan hal seperti itu karena aku ingin menyenangkan hatinya, agar ia tidak terpaku dengan perkataan pria tersebut.
            “Yah, masih banyak laki-laki lain kok,” kata Mary seraya menegakkan badan. “Kalau begitu, sesudah kita pulang, ayo kita berkaraoke!”
            Setidaknya Mary sudah bersemangat, sebagai sahabatnya, hanya itu yang dapat kulakukan. Bagiku, Mary adalah segalanya. Aku bukannya mencintainya, ia adalah saudaraku. Bagiku yang tidak memiliki orang tua dan saudara, tentu berat rasanya hidup sendirian. Hanya Mary yang menerimaku.
            Kami kemudian kembali ke kelas kami masing-masing. Aku ke dalam kelas sejarah, sedangkan Mary ke kelas fisikanya. Di dalam kelasku dibahas mengenai ras lebih mendalam, lebih tepatnya melanjutkan buku yang sedang kubaca tadi. Kami membahas ras Elvraz, Dran, Dwarven, dan Morlock lebih mendalam. Diperlihatkan juga beberapa gambar akan Dran yang tergambar di dalam buku itu.
            Semua hal tersebut menarik bagiku, aku tidak sabar untuk dapat menjelajah dan mencari tahu akan semua hal yang berhubungan dengan ras selain manusia. Setelah selesai kelas, aku bertemu kembali dengan Mary, sesuai janji kami, kami berkaraoke setelah kelas, kami berkaraoke sampai malam. Setelah selesai berkaraoke, kami pergi ke supermarket untuk membeli makanan malam ini. Aku dan Mary teman sekamar di asrama kami, karena itu kami memasak bersama untuk makan malam.
            Sewaktu kami keluar dari supermarket, matahari sudah terbenam. Selagi kami berjalan pulang, kami berbincang mengenai apa yang akan kami lakukan besok, mengenai teman-teman yang kami kenal di kampus, mengenai teman lama kami, bahkan kami sedikit bergosip mengenai pria yang tadi siang menolak Mary. Selagi kami berjalan di jalanan yang sepi, tiba-tiba ada dua orang pria menghadang kami dari depan dan belakang.
            “Hai, kalian. Mau ke mana?” tanya pria yang ada di depan kami dengan senyum seraya ia berdiri di bawah lampu jalan agar terlihat wajahnya yang jelek dan menjijikkan itu.
            “Bukan urusan kalian. Pergi! Kalian menghalangi jalan kami,” kata Mary. Mary tidak takut, karena ia mempelajari karate, sehingga ia berani menghadapi orang-orang seperti ini. Sebelumnya kami juga pernah berhadapan dengan orang yang seperti mereka. Hasilnya, mereka lari terbirit-birit karena diberi pelajaran oleh Mary.
            “Oh, perempuan yang berani, aku suka perempuan yang seperti ini,” kata pria yang ada di belakang kami.
            Aku tidak takut, walau memang aku tidak bisa karate dan bela diri yang lainnya, aku percaya kepada Mary bahwa ia akan melindungiku. Selalu saja begitu dari kecil, aku yang lemah, ia yang membelaku.
            Pria yang ada di depan kami tiba-tiba datang mendekat dan menarik tangan kiri Mary sambil berkata, “Kau manis juga, ayolah ikut bersama kami dan main bersama.”
            Seketika itu juga Mary melesakkan pukulan tangan kanannya ke perutnya dan BUK! Pria tersebut langsung terjatuh kesakitan dan saat itu juga, Mary mendaratkan tendangan lutut ke pipi kirinya sehingga pria itu segera terpental sedikit jauh dari kami. “Jangan pernah macam-macam denganku orang mesum!!” seru Mary.
            “Sepertinya wanita ini menarik juga,” kata pria yang ada di belakang kami.
            “Kalau kau memang berani, hadapilah aku sekarang,” tantang Mary sambil menghadap pria itu dan bersiap untuk bertahan. Terkadang, Mary terlalu yakin akan kemampuannya. Memang ia belum pernah kalah dalam karate maupun berkelahi, tapi tetap saja ia terlalu percaya diri, sama seperti kepercayaan dirinya bahwa ia diterima oleh semua pria.
            “Tempat ini cukup sepi, tidak apa-apa kan kita melakukannya di sini?” tanya pria yang sedari tadi di belakang kami kepada temannya yang kembali bangkit.
            “Tidak apa-apa, lagipula wanita ini memang perlu diberi pelajaran,” kata pria yang barusan dipukul Mary seraya berusaha bangkit.
            “Kalau begitu aku tidak sungkan-sungkan.” Seketika itu, pria yang dari tadi ada di belakang kami, berubah. Aku tidak percaya apa yang kulihat tetapi pria itu berubah, menjadi bentuk yang berbeda. Mataku tidak salah, walaupun gelap, aku dapat melihat siluet yang dihasilkan dari perubahan bentuk itu. Mulutnya maju ke depan menjadi sebuah moncong, lengannya menjadi kekar merobek bajunya, jari tangannya dari lima menjadi empat, kukunya menjadi cakar yang terlihat sangat tajam. Kalau diperhatikan, ia terlihat seperti seekor buaya besar yang dapat berdiri dengan kedua kakinya tanpa ekor. Pemandangan yang kulihat benar-benar menyeramkan, membuatku gemetar, tidak dapat bergerak.
            Hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah, orang ini apa? Apakah ia adalah Dran? Bagaimana cara kami bisa pergi dari sini? Aku melihat ke arah Mary, ia juga sedikit ketakutan, aku dapat melihat dari matanya bahwa ia melihat seorang manusia berubah menjadi seorang monster yang menyeramkan. Tapi ia tetap tegar dan berusaha berdiri, sedangkan aku, aku sudah duduk ketakutan karena kakiku tidak dapat menahan gemetar yang kurasakan.
            Aku takut, gemetar, gigiku bergemerutuk, kakiku terus bergoyang tidak kuasa, rasanya aku akan segera jatuh. Baru kali ini aku merasakan takut yang benar-benar mengerikan. Aku mencoba melihat ke arah pria yang di hajar Mary, ia juga berubah, bahkan terlihat lebih mengerikan. Selain menjadi seperti pria yang baru berubah tadi, ada tanduk-tanduk yang menyeramkan mencuat satu per satu di punggungnya mengikuti alur dari tulang punggung. Aku tidak menyangka akhir hidupku akan menjadi secepat ini. Padahal aku belum memenuhi semuanya, aku belum benar-benar tahu ras yang lain, aku belum tahu akan apa yang menimpa keluargaku, aku belum tahu apakah hal yang kulihat waktu itu benar-benar kejadian nyata atau tidak. Aku…Aku…
            “Sekarang, di mana keberanianmu anak kecil?” tanya pria yang pertama berubah tadi kepada Mary seraya mendekati Mary. Langsung Mary menendangnya ke arah mukanya, tetapi, pria itu sama sekali tidak berteriak kesakitan, tidak terlihat luka, bahkan tidak bergerak sama sekali. Dari sampingnya, aku dapat melihat muka Mary yang menjadi pucat dan berkeringat dingin.
            Segera pria itu memegang kaki Mary yang ada di mukanya dan melempar Mary ke tembok rumah yang ada di sebelah kirinya. Sewaktu Mary terbentur, aku dapat mendengar bunyi selain bunyi benturan. Krak! Seperti bunyi sesuatu yang patah atau retak. Mary terjatuh dan tidak dapat bergerak sama sekali.
            Selagi aku melihat apa yang terjadi dengan Mary, pria yang berubah belakangan memegang tangan kananku dan menarikku ke atas dengan mudahnya. Kakiku tidak dapat menapak tanah karena ia menjadi lebih tinggi dan lebih menyeramkan. “Aku sudah lapar daritadi, sebaiknya cepat kita makan mereka sebelum ada orang yang melihat,” kata pria yang mengangkatku.
            Aku tidak dapat melihat Mary lagi, yang dapat kulihat hanyalah mulut yang besar, lebih besar daripada buaya, menganga lebar hendak melahapku. Inilah akhir hidupku, aku menutup mata agar tidak melihat apa yang akan dilakukannya, aku takut, tidak berani melihat kalau ia akan memakanku.
            Tiba-tiba terdengar suara, suara sesuatu yang menusuk. Aku tidak merasakan sakit, apakah itu berarti Mary sudah mulai dimakan? Tapi selain suara tertusuk itu, aku mendengar teriakan, teriakan seorang pria yang kesakitan.
            “Hei, apa yang terjadi?” tanya pria yang hendak memakanku kepada temannya dan aku dijatuhkannya. Aku mengumpulkan keberanian untuk membuka mataku dan melihat ke arahnya. Apa yang kulihat benar-benar mencengangkan. Tiba-tiba ada seseorang di samping pria tersebut. Semuanya terjadi begitu cepat, mereka berdiri bersampingan, pria yang hendak memakanku mencoba melihat siapa yang ada di sampingnya, sedangkan orang yang baru datang itu hanya menatap ke depan tidak melihat pria tersebut. Lalu dengan tangan kirinya yang memegang terbalik sebuah senjata seperti pisau, orang tersebut menancapkan senjatanya ke pria tadi sekaligus mendorongnya hingga ia terpental ke tembok yang ada di sampingnya.
            Aku berusaha melihat ke arah Mary, terlihat pria yang ingin memakan Mary jatuh ke tanah dengan suatu benda mencuat dari dadanya, sepertinya itu adalah senjata pria yang tadi. Mary masih utuh, ia belum dimakan sama sekali, aku bersyukur akan hal itu.
            Tanpa kusadari, aku diangkat oleh orang tersebut dan ia langsung menuju ke arah Mary, lalu mengangkat Mary juga dan dengan kecepatan tinggi ia pergi meninggalkan kedua pria yang hendak memakan kami. Aku berada di kanannya, Mary berada di kirinya. Aku tidak bisa bergerak karena ia berlari dengan cepat sekali.
            “Halo, Ken. Keadaan darurat,” katanya di tengah perjalanan, suaranya seperti suara pria, pria yang dingin dan tidak memiliki perasaan. Sepertinya ia memakai ponsel yang disambungkan dengan bluetooth ke alat pendengar di telinganya.
            Dalam sekejap, kami tiba di rumah sakit. Kami langsung masuk ke halaman belakang dari rumah sakit tersebut dan ada yang menjemput kami, seorang dokter dengan dua suster yang membawa sebuah ranjang dorong. Aku ditaruh di lantai dengan perlahan, Mary dibawa olehnya ke arah dokter tersebut. Seraya aku bangun, aku melihat pria itu bicara dengan dokter sebentar dan setelah selesai, dokter bersama dengan susternya membawa Mary masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan pria itu berjalan ke arahku sambil melepaskan alat pendengar di telinganya.
 “Kau tidak apa-apa?” Itu adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh orang tersebut, ya pria yang telah menyelamatkanku. Ia menjulurkan tangannya untuk membantuku berdiri selagi bertanya hal tersebut. Sepertinya, aku pernah melihat mukanya yang diterangi lampu taman rumah sakit. Muka yang sendiri, dingin, tidak memiliki teman, tidak pernah berteman dengan siapapun.
            “Apakah aku pernah bertemu denganmu?” tanyaku kepadanya.
            Pria itu terlihat kebingungan. Aku mencoba berdiri seraya ditarik olehnya, setelah berdiri aku berusaha untuk menyeimbangkan badanku. Aku masih sedikit takut atas apa yang terjadi tadi. Walau begitu, pria ini membuatku sedikit lebih tenang dari sebelumnya. “Mungkin kau salah melihat. Aku tidak pernah bertemu denganmu,” jawab pria tersebut.
            Sewaktu kuingat-ingat kembali. Aku memang pernah bertemu dengannya. “Tunggu, apakah kau mahasiswa yang duduk di bangku taman siang ini yang sedang membaca sebuah buku?”
            Pria itu diam sebentar lalu mengatakan, “Mungkin kau salah lihat. Mungkin orang itu mirip denganku.”
            “Tidak, aku tidak salah lihat. Temanku yang tadi dibawa dokter adalah wanita yang menggodamu siang tadi. Apa kau tidak ingat?”
            “Maaf, aku sama sekali tidak tahu siapa dirinya. Tapi…” ia berpikir dengan mendongakkan kepalanya ke kiri, “sepertinya memang ada yang bicara denganku siang tadi.”
            “Berarti kau yang kulihat tadi siang! Kau yang…”
            Tiba-tiba ada yang turun dengan cepat di belakangnya. Ketakutanku bertambah sewaktu aku melihat sayap yang seperti kelelawar, sayap naga, mengembang lebar. Sewaktu kulihat, itu adalah pria-pria yang dihajar oleh pria yang menyelamatkanku tadi, pria yang seperti Dran. “Kau tahu, tadi itu sakit!!!” Seru pria bersayap yang ada di belakang pria yang menolongku seraya menyerangnya dengan cakarnya yang mengerikan.
            Pria yang menolongku dengan cepat menghindari serangan tersebut, membawaku lari menjauh kedua pria itu. Aku yang kebingungan dengan sekejap bisa berada di pinggir taman itu, sedangkan pria yang menolongku langsung menuju kembali ke arah kedua pria itu. Dalam kecepatan yang tidak bisa ditandingi manusia, ia bertarung dengan mereka. Pria yang seperti Dran yang pertama, dengan mudah di angkatnya dan di tendang melayang di udara hingga menabrak lampu taman. Langsung pria tersebut menusuk leher Dran kedua dengan senjatanya, membiarkan senjata itu berada di lehernya sehingga Dran kedua berlutut karena kesakitan, dan dengan sikunya kanannya, ia menghantam puncak kepalanya. Dari tempatku berdiri, aku mendengar bunyi krak yang kencang dan banyak. Seketika Dran kedua jatuh tidak bergerak lagi.
            Begitu urusan pria tersebut dengan Dran kedua selesai, ia langsung menuju ke arah Dran pertama yang ditendangnya tadi. Begitu Dran pertama melihat hal itu, ia langsung mengembangkan sayapnya dan terbang menghindari pria tersebut. Aku tidak tahu apa yang kulihat, tapi sepertinya pria yang menolongku mengibaskan lengannya ke atas seperti melempar sesuatu kepada Dran pertama. Seketika itu, aku tidak percaya akan apa yang kulihat. Siluet Dran yang diterpa sinar rembulan sewaktu terbang, langsung jatuh dengan cepat ke tanah, tepat di samping pria yang menolongku.
            Aku mencoba untuk mendekati mereka, berusaha melihat apa yang sesungguhnya terjadi dari dekat. Selagi aku berjalan mendekati, aku mendengar percakapan mereka. “Kumohon, ampuni aku, biarkan aku hidup,” pinta Dran tersebut kepada pria yang menolongku. Kulihat Dran itu sudah terluka, sayapnya koyak, diinjak oleh pria yang menolongku agar ia tidak terbang lagi seraya pria tersebut mengulurkan sebuah senjata di tangan kanannya supaya Dran tersebut tidak kabur.
             “Sudah cukup untuk kalian. Terakhir kali kalian kuberi ampun, kalian justru mengulanginya lagi,” jawab pria yang menolongku dengan nada bicara yang amat dingin. Langsung ia menghujamkan senjata yang ada di tangan kanannya ke kepala Dran tersebut. Senjata itu menembus kepalanya, Dran tersebut langsung tidak bergerak, mati. Akan tetapi tidak hanya itu, tiba-tiba Dran tersebut mulai menguap, ya, seperti air yang menguap karena panas, ia mulai menguap dan hilang dari depan mataku. Aku melihat ke arah Dran yang tadi ditusuk lehernya, ia pun sudah menghilang.
            Pria tersebut berdiri dan langsung berjalan meninggalkanku. “Tunggu!” seruku, ia berhenti sejenak dan berbalik melihatku. “Si—Siapa kau? Kau ini apa?”
            Pria itu melihatku dengan tatapan yang dingin, lalu berkata, “Namaku Tatsu. Aku adalah Elvraz.”

            Elvraz?! Ras yang tinggal di dalam hutan dan memiliki kecerdasan yang tinggi?! Aku semakin bingung dengan apa yang kulihat. Malam ini aku sudah melihat dua ras yang diragukan oleh manusia, Dran dan Elvraz. Ras-ras yang paling ingin kutemui.

0 comments:

Posting Komentar