Kututup buku itu.
Nishimura Taiki, nama yang aneh dan asing yang tidak pernah kudengar. Tidak
seperti namaku, Elizabeth. Namanya memiliki kekhasan tersendiri yang membuat
banyak orang mengingatnya. Dosenku mengatakan kalau buku ini sudah ada sejak
200 tahun yang lalu dan sudah di tulis berulang kali. Buku yang asli terdapat
di museum sekarang. Buku ini merupakan bukti nyata bahwa sebenarnya memang ada
ras lain selain manusia. Akan tetapi, sekarang ini banyak yang berpikir bahwa
itu bukanlah hal yang benar-benar terjadi. Lagipula, orang yang menulis buku
ini—Nishimura—pasti sudah tidak ada dan sudah meninggal.
Aku menatap ke atas, melihat
berkas-berkas cahaya yang menembus daun-daun rindang yang melindungiku dari
sinar matahari. Cuaca yang asri, segar, membuat banyak orang datang ke taman
ini, duduk di bawah pohon sepertiku, dan membaca, atau tidur, atau bahkan
berpacaran, hal yang tidak kusuka. Aku lebih suka membaca buku, mengetahui sejarah,
mengenal orang-orang, atau yang paling kuinginkan adalah menemukan ras-ras lain
seperti yang tertulis dalam buku ini.
Entah, buku ini dongeng atau tidak.
Kalau ini merupakan dongeng, aku ingin dongeng ini menjadi kenyataan, dengan
begitu kita akan hidup di dunia penuh dengan ras yang beragam dan tidak hanya
ada manusia saja. Aku percaya, kalau ada dunia lain di luar sana, dunia yang
tidak ada manusia sama sekali. Aku memejamkan mata, berusaha untuk tertidur
agar masuk ke dalam mimpi yang penuh dengan ras tersebut.
Tiba-tiba sesuatu yang dingin
menyentuh dahiku. Aku, yang sedang berkhayal bertualang di dalam dunia yang
penuh dengan ras, langsung segera menghindar ke samping, melihat ke arah
datangnya suhu dingin tersebut.
“Kau tidak perlu kaget seperti itu,
Elly. Ini hanya jus Manda,” kata
orang tersebut.
Manda—buah yang tumbuh di dalam
tanah, akarnya mencari air yang dingin sehingga membuat batangnya menjadi
dingin. Kedinginan ini bukannya membuat tumbuhan tersebut membeku, tapi justru
memiliki air yang sangat dingin yang dapat memberikan kesegaran di tengah
teriknya matahari. Bentuk buah ini melonjong kerucut. Akarnya dapat digunakan
sebagai makanan tambahan.
Ia kemudian menyeruput jus itu. Jus Manda adalah campuran air dengan
badannya secara langsung. “Ini pesananmu Elly. Bomsandwich.”
“Terima kasih, Mary.” Mary adalah
temanku, teman baikku sejak aku kecil. Aku selalu bersama dengannya, tidak mau
meninggalkannya. Aku mengambil Bomsandwich
tersebut, ini adalah sebuah roti yang terlihat setengah lingkaran kalau dilihat
dari samping, warnanya coklat kematangan membuatnya terlihat begitu nikmat. Di
puncak roti tersebut, isi-isi roti itu mencuat seakan meledak di ujung. Dari
luar yang terlihat hanyalah sebuah roti dengan sedikit daging di puncaknya. Akan
tetapi begitu dibuka dalamnya, terdapat berbagai macam isi seperti, daging
cincang, sayur-sayuran seperti daun, dan juga mentimun. Semuanya ada di dalam
roti tersebut. Aroma yang dikeluarkan pun sangat menyegarkan, membuat semua
orang menjadi lapar.
“Kau senang sekali makan Bomsandwich. Apa enaknya makanan itu?” tanya Mary seraya duduk di sebelahku.
“Daripada kau, Mary. Makananmu dan
minumanmu selalu itu-itu saja. Entah itu jus Manda yang kau pegang di tangan kirimu atau Spirainbow yang kau genggam di tangan kananmu itu.”
Mary menggeleng-gelengkan kepalanya
kecewa. “Kau tidak tahu kenikmatan tiada tara dari kedua makanan ini. Spirainbow adalah makanan yang paling
enak sepanjang masa!” Ia kemudian berdiri dan mulai berpuisi.
Roti silinder, yang ditusuk
dengan kayu yang begitu indah.
Dibalutkan dengan pelangi yang
begitu indah.
Kelembutan yang tiada tara,
Kenikmatan yang tiada banding.
Oh Spirainbow, dirimu dan diriku
Tidak akan terlepaskan
Tidak AKAN kulepaskan
Kau adalah nikmat duniaku
Langsung ia memasukkan makanannya ke
mulut, membelahnya sehingga terlihat tusuk kayu yang ada di dalamnya, dan
mengunyahnya dengan muka yang begitu bahagia. “Wah, wah. Ternyata kau jadi
semakin sering berpuisi ya sekarang. Tapi ada hal yang harus kau tahu, Mary. Itu
tidak dibalut oleh pelangi, itu hanyalah gula berwarna berbentuk seperti
pelangi yang mengelilingi roti itu.”
“Ah, kau ini terlalu ilmiah. Aku
benci dengan keilmiahan mu itu. Lagipula tidak ada salahnya aku berpuisi
sedikit.”
“Aku? Ilmiah? Padahal kau sendiri
yang masuk ke dalam ilmu fisika dan ingin mengetahui kejadian-kejadian yang ada
di dunia ini. Sedangkan aku? Aku hanya masuk ke dalam jurusan sejarah. Aku
tidak ilmiah, kamu lah yang lebih ilmiah Mary-ku tersayang.”
Mary kemudian kembali duduk. “Sudahlah,
sulit kalau aku harus berdebat denganmu.”
Aku pun hanya tertawa kecil. Mary
memiliki perawakan yang cantik, memesona bagi banyak pria. Ia berambut pirang,
tinggi, seumuran denganku karena temanku sejak kecil, dan juga suka sekali
berganti pacar. Tapi ia teman baikku, kami selalu bersama dan membagi
pengalaman kami, kami sahabat yang bagaikan saudara.
Mary tiba-tiba menyenggolku dengan
sikunya. “Hei, Elly, lihat yang ada di seberang kita, ada pria yang sedang
duduk sendiri di sana.”
Aku melihat ke arah pria tersebut,
ia sedang duduk sendiri membaca buku. Rambutnya hitam, ia memiliki postur badan
yang bagus, terlihat tampan, dan melihatnya seperti itu, pasti ada banyak
perempuan yang langsung jatuh hati kepadanya, termasuk Mary.
“Bagaimana, tampan bukan?” Sudah
kuduga, Mary akan bertanya seperti itu.
“Lumayan. Apa kau mau mengincarnya?
Bagaimana dengan pacarmu?”
“Ah, aku sudah bosan dengannya, dia
tidak menarik. Selalu saja berada di dalam rumah dan tidak ingin keluar, aku
bosan dengannya.” Ya, Mary selalu seperti itu, seakan mempermainkan semua hati
pria yang berkencan dengannya. Sebenarnya pria-pria tersebut juga salah, mau
saja mereka termakan buaian dari Mary. “Akan kudekati dia, lihat ini.” Kemudian
Mary berdiri dan mendekati pria tersebut. Ia memang pintar memainkan perkataan
dan menggoda pria, ia seperti sudah ahli kalau melakukan hal tersebut.
Kulihat kalau ia sedang berupaya
mengajak bicara pria tersebut dengan berbagai macam kata, gaya yang sedikit
sensual, bahkan sampai merangkulnya. Akan tetapi pria tersebut tidak menggubris
apapun yang dilakukan Mary sama sekali. Akhirnya pria tersebut terlihat
mengucapkan sepatah kata yang membuat Mary terkejut, sehingga Mary terlihat
kebingungan dalam menghadapinya.
Akhirnya Mary kembali dengan raut muka
yang lesu dan menghela napas panjang walaupun ia sudah duduk di sebelahku.
Ingin rasanya kutanya apa yang terjadi, tapi sepertinya jawabannya sudah jelas.
Tiba-tiba Mary menarik kerahku dengan kedua tangannya sehingga aku bertatapan
muka dengannya dan ia berkata, “Baru kali ini Elly…baru kali ini aku ditolak
oleh seorang pria yang sepertinya mudah untuk kugoda!,” ia melepas genggamannya
dan memandang ke atas seakan sedang memaki kepada langit, “Dengan nada yang
dingin dia mengatakan, ‘Pergi, aku tidak mau melihatmu.’ Apa-apaan itu!” Ia
langsung menunduk merasa seluruh dunia ini runtuh di depannya.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan
seorang wanita yang selalu sukses dalam menggoda pria, tiba-tiba gagal dengan
perkataan seperti itu. Walaupun aku tidak setuju dengan sudut pandang Mary,
tetap saja aku tidak senang dengan caranya menolak. Seharusnya ia bisa lebih
halus menolak Mary daripada menolaknya dengan kata-kata yang menusuk hati.
“Sudahlah Mary, mungkin ia memang tidak suka dengan perempuan, siapa tahu ia
menyukai sesama jenis.” Aku mengatakan hal seperti itu karena aku ingin
menyenangkan hatinya, agar ia tidak terpaku dengan perkataan pria tersebut.
“Yah, masih banyak laki-laki lain
kok,” kata Mary seraya menegakkan badan. “Kalau begitu, sesudah kita pulang,
ayo kita berkaraoke!”
Setidaknya Mary sudah bersemangat,
sebagai sahabatnya, hanya itu yang dapat kulakukan. Bagiku, Mary adalah
segalanya. Aku bukannya mencintainya, ia adalah saudaraku. Bagiku yang tidak
memiliki orang tua dan saudara, tentu berat rasanya hidup sendirian. Hanya Mary
yang menerimaku.
Kami kemudian kembali ke kelas kami
masing-masing. Aku ke dalam kelas sejarah, sedangkan Mary ke kelas fisikanya.
Di dalam kelasku dibahas mengenai ras lebih mendalam, lebih tepatnya
melanjutkan buku yang sedang kubaca tadi. Kami membahas ras Elvraz, Dran,
Dwarven, dan Morlock lebih mendalam. Diperlihatkan juga beberapa gambar akan
Dran yang tergambar di dalam buku itu.
Semua hal tersebut menarik bagiku,
aku tidak sabar untuk dapat menjelajah dan mencari tahu akan semua hal yang
berhubungan dengan ras selain manusia. Setelah selesai kelas, aku bertemu
kembali dengan Mary, sesuai janji kami, kami berkaraoke setelah kelas, kami
berkaraoke sampai malam. Setelah selesai berkaraoke, kami pergi ke supermarket
untuk membeli makanan malam ini. Aku dan Mary teman sekamar di asrama kami,
karena itu kami memasak bersama untuk makan malam.
Sewaktu kami keluar dari
supermarket, matahari sudah terbenam. Selagi kami berjalan pulang, kami
berbincang mengenai apa yang akan kami lakukan besok, mengenai teman-teman yang
kami kenal di kampus, mengenai teman lama kami, bahkan kami sedikit bergosip
mengenai pria yang tadi siang menolak Mary. Selagi kami berjalan di jalanan
yang sepi, tiba-tiba ada dua orang pria menghadang kami dari depan dan
belakang.
“Hai, kalian. Mau ke mana?” tanya
pria yang ada di depan kami dengan senyum seraya ia berdiri di bawah lampu
jalan agar terlihat wajahnya yang jelek dan menjijikkan itu.
“Bukan urusan kalian. Pergi! Kalian
menghalangi jalan kami,” kata Mary. Mary tidak takut, karena ia mempelajari
karate, sehingga ia berani menghadapi orang-orang seperti ini. Sebelumnya kami
juga pernah berhadapan dengan orang yang seperti mereka. Hasilnya, mereka lari
terbirit-birit karena diberi pelajaran oleh Mary.
“Oh, perempuan yang berani, aku suka
perempuan yang seperti ini,” kata pria yang ada di belakang kami.
Aku tidak takut, walau memang aku
tidak bisa karate dan bela diri yang lainnya, aku percaya kepada Mary bahwa ia
akan melindungiku. Selalu saja begitu dari kecil, aku yang lemah, ia yang
membelaku.
Pria yang ada di depan kami
tiba-tiba datang mendekat dan menarik tangan kiri Mary sambil berkata, “Kau
manis juga, ayolah ikut bersama kami dan main bersama.”
Seketika itu juga Mary melesakkan pukulan
tangan kanannya ke perutnya dan BUK! Pria tersebut langsung terjatuh kesakitan
dan saat itu juga, Mary mendaratkan tendangan lutut ke pipi kirinya sehingga
pria itu segera terpental sedikit jauh dari kami. “Jangan pernah macam-macam
denganku orang mesum!!” seru Mary.
“Sepertinya wanita ini menarik
juga,” kata pria yang ada di belakang kami.
“Kalau kau memang berani, hadapilah
aku sekarang,” tantang Mary sambil menghadap pria itu dan bersiap untuk
bertahan. Terkadang, Mary terlalu yakin akan kemampuannya. Memang ia belum
pernah kalah dalam karate maupun berkelahi, tapi tetap saja ia terlalu percaya
diri, sama seperti kepercayaan dirinya bahwa ia diterima oleh semua pria.
“Tempat ini cukup sepi, tidak
apa-apa kan kita melakukannya di sini?” tanya pria yang sedari tadi di belakang
kami kepada temannya yang kembali bangkit.
“Tidak apa-apa, lagipula wanita ini
memang perlu diberi pelajaran,” kata pria yang barusan dipukul Mary seraya
berusaha bangkit.
“Kalau begitu aku tidak
sungkan-sungkan.” Seketika itu, pria yang dari tadi ada di belakang kami,
berubah. Aku tidak percaya apa yang kulihat tetapi pria itu berubah, menjadi
bentuk yang berbeda. Mataku tidak salah, walaupun gelap, aku dapat melihat
siluet yang dihasilkan dari perubahan bentuk itu. Mulutnya maju ke depan
menjadi sebuah moncong, lengannya menjadi kekar merobek bajunya, jari tangannya
dari lima menjadi empat, kukunya menjadi cakar yang terlihat sangat tajam.
Kalau diperhatikan, ia terlihat seperti seekor buaya besar yang dapat berdiri
dengan kedua kakinya tanpa ekor. Pemandangan yang kulihat benar-benar
menyeramkan, membuatku gemetar, tidak dapat bergerak.
Hal pertama yang terlintas di
kepalaku adalah, orang ini apa? Apakah ia adalah Dran? Bagaimana cara kami bisa
pergi dari sini? Aku melihat ke arah Mary, ia juga sedikit ketakutan, aku dapat
melihat dari matanya bahwa ia melihat seorang manusia berubah menjadi seorang
monster yang menyeramkan. Tapi ia tetap tegar dan berusaha berdiri, sedangkan
aku, aku sudah duduk ketakutan karena kakiku tidak dapat menahan gemetar yang
kurasakan.
Aku takut, gemetar, gigiku
bergemerutuk, kakiku terus bergoyang tidak kuasa, rasanya aku akan segera
jatuh. Baru kali ini aku merasakan takut yang benar-benar mengerikan. Aku
mencoba melihat ke arah pria yang di hajar Mary, ia juga berubah, bahkan
terlihat lebih mengerikan. Selain menjadi seperti pria yang baru berubah tadi,
ada tanduk-tanduk yang menyeramkan mencuat satu per satu di punggungnya
mengikuti alur dari tulang punggung. Aku tidak menyangka akhir hidupku akan
menjadi secepat ini. Padahal aku belum memenuhi semuanya, aku belum benar-benar
tahu ras yang lain, aku belum tahu akan apa yang menimpa keluargaku, aku belum
tahu apakah hal yang kulihat waktu itu benar-benar kejadian nyata atau tidak.
Aku…Aku…
“Sekarang, di mana keberanianmu anak
kecil?” tanya pria yang pertama berubah tadi kepada Mary seraya mendekati Mary.
Langsung Mary menendangnya ke arah mukanya, tetapi, pria itu sama sekali tidak
berteriak kesakitan, tidak terlihat luka, bahkan tidak bergerak sama sekali.
Dari sampingnya, aku dapat melihat muka Mary yang menjadi pucat dan berkeringat
dingin.
Segera pria itu memegang kaki Mary
yang ada di mukanya dan melempar Mary ke tembok rumah yang ada di sebelah
kirinya. Sewaktu Mary terbentur, aku dapat mendengar bunyi selain bunyi
benturan. Krak! Seperti bunyi sesuatu yang patah atau retak. Mary terjatuh dan
tidak dapat bergerak sama sekali.
Selagi aku melihat apa yang terjadi
dengan Mary, pria yang berubah belakangan memegang tangan kananku dan menarikku
ke atas dengan mudahnya. Kakiku tidak dapat menapak tanah karena ia menjadi
lebih tinggi dan lebih menyeramkan. “Aku sudah lapar daritadi, sebaiknya cepat
kita makan mereka sebelum ada orang yang melihat,” kata pria yang mengangkatku.
Aku tidak dapat melihat Mary lagi,
yang dapat kulihat hanyalah mulut yang besar, lebih besar daripada buaya,
menganga lebar hendak melahapku. Inilah akhir hidupku, aku menutup mata agar
tidak melihat apa yang akan dilakukannya, aku takut, tidak berani melihat kalau
ia akan memakanku.
Tiba-tiba terdengar suara, suara
sesuatu yang menusuk. Aku tidak merasakan sakit, apakah itu berarti Mary sudah
mulai dimakan? Tapi selain suara tertusuk itu, aku mendengar teriakan, teriakan
seorang pria yang kesakitan.
“Hei, apa yang terjadi?” tanya pria
yang hendak memakanku kepada temannya dan aku dijatuhkannya. Aku mengumpulkan
keberanian untuk membuka mataku dan melihat ke arahnya. Apa yang kulihat
benar-benar mencengangkan. Tiba-tiba ada seseorang di samping pria tersebut.
Semuanya terjadi begitu cepat, mereka berdiri bersampingan, pria yang hendak
memakanku mencoba melihat siapa yang ada di sampingnya, sedangkan orang yang
baru datang itu hanya menatap ke depan tidak melihat pria tersebut. Lalu dengan
tangan kirinya yang memegang terbalik sebuah senjata seperti pisau, orang
tersebut menancapkan senjatanya ke pria tadi sekaligus mendorongnya hingga ia
terpental ke tembok yang ada di sampingnya.
Aku berusaha melihat ke arah Mary,
terlihat pria yang ingin memakan Mary jatuh ke tanah dengan suatu benda mencuat
dari dadanya, sepertinya itu adalah senjata pria yang tadi. Mary masih utuh, ia
belum dimakan sama sekali, aku bersyukur akan hal itu.
Tanpa kusadari, aku diangkat oleh
orang tersebut dan ia langsung menuju ke arah Mary, lalu mengangkat Mary juga
dan dengan kecepatan tinggi ia pergi meninggalkan kedua pria yang hendak
memakan kami. Aku berada di kanannya, Mary berada di kirinya. Aku tidak bisa
bergerak karena ia berlari dengan cepat sekali.
“Halo, Ken. Keadaan darurat,”
katanya di tengah perjalanan, suaranya seperti suara pria, pria yang dingin dan
tidak memiliki perasaan. Sepertinya ia memakai ponsel yang disambungkan dengan bluetooth ke alat pendengar di
telinganya.
Dalam sekejap, kami tiba di rumah
sakit. Kami langsung masuk ke halaman belakang dari rumah sakit tersebut dan
ada yang menjemput kami, seorang dokter dengan dua suster yang membawa sebuah
ranjang dorong. Aku ditaruh di lantai dengan perlahan, Mary dibawa olehnya ke
arah dokter tersebut. Seraya aku bangun, aku melihat pria itu bicara dengan
dokter sebentar dan setelah selesai, dokter bersama dengan susternya membawa
Mary masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan pria itu berjalan ke arahku sambil
melepaskan alat pendengar di telinganya.
“Kau tidak apa-apa?” Itu adalah
pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh orang tersebut, ya pria yang telah
menyelamatkanku. Ia menjulurkan tangannya untuk membantuku berdiri selagi
bertanya hal tersebut. Sepertinya, aku pernah melihat mukanya yang diterangi
lampu taman rumah sakit. Muka yang sendiri, dingin, tidak memiliki teman, tidak
pernah berteman dengan siapapun.
“Apakah aku pernah bertemu
denganmu?” tanyaku kepadanya.
Pria itu terlihat kebingungan. Aku
mencoba berdiri seraya ditarik olehnya, setelah berdiri aku berusaha untuk menyeimbangkan
badanku. Aku masih sedikit takut atas apa yang terjadi tadi. Walau begitu, pria
ini membuatku sedikit lebih tenang dari sebelumnya. “Mungkin kau salah melihat.
Aku tidak pernah bertemu denganmu,” jawab pria tersebut.
Sewaktu kuingat-ingat kembali. Aku
memang pernah bertemu dengannya. “Tunggu, apakah kau mahasiswa yang duduk di
bangku taman siang ini yang sedang membaca sebuah buku?”
Pria itu diam sebentar lalu
mengatakan, “Mungkin kau salah lihat. Mungkin orang itu mirip denganku.”
“Tidak, aku tidak salah lihat.
Temanku yang tadi dibawa dokter adalah wanita yang menggodamu siang tadi. Apa
kau tidak ingat?”
“Maaf, aku sama sekali tidak tahu
siapa dirinya. Tapi…” ia berpikir dengan mendongakkan kepalanya ke kiri,
“sepertinya memang ada yang bicara denganku siang tadi.”
“Berarti kau yang kulihat tadi
siang! Kau yang…”
Tiba-tiba ada yang turun dengan
cepat di belakangnya. Ketakutanku bertambah sewaktu aku melihat sayap yang
seperti kelelawar, sayap naga, mengembang lebar. Sewaktu kulihat, itu adalah
pria-pria yang dihajar oleh pria yang menyelamatkanku tadi, pria yang seperti
Dran. “Kau tahu, tadi itu sakit!!!” Seru pria bersayap yang ada di belakang
pria yang menolongku seraya menyerangnya dengan cakarnya yang mengerikan.
Pria yang menolongku dengan cepat
menghindari serangan tersebut, membawaku lari menjauh kedua pria itu. Aku yang
kebingungan dengan sekejap bisa berada di pinggir taman itu, sedangkan pria
yang menolongku langsung menuju kembali ke arah kedua pria itu. Dalam kecepatan
yang tidak bisa ditandingi manusia, ia bertarung dengan mereka. Pria yang
seperti Dran yang pertama, dengan mudah di angkatnya dan di tendang melayang di
udara hingga menabrak lampu taman. Langsung pria tersebut menusuk leher Dran
kedua dengan senjatanya, membiarkan senjata itu berada di lehernya sehingga
Dran kedua berlutut karena kesakitan, dan dengan sikunya kanannya, ia
menghantam puncak kepalanya. Dari tempatku berdiri, aku mendengar bunyi krak
yang kencang dan banyak. Seketika Dran kedua jatuh tidak bergerak lagi.
Begitu urusan pria tersebut dengan
Dran kedua selesai, ia langsung menuju ke arah Dran pertama yang ditendangnya
tadi. Begitu Dran pertama melihat hal itu, ia langsung mengembangkan sayapnya
dan terbang menghindari pria tersebut. Aku tidak tahu apa yang kulihat, tapi
sepertinya pria yang menolongku mengibaskan lengannya ke atas seperti melempar
sesuatu kepada Dran pertama. Seketika itu, aku tidak percaya akan apa yang
kulihat. Siluet Dran yang diterpa sinar rembulan sewaktu terbang, langsung jatuh
dengan cepat ke tanah, tepat di samping pria yang menolongku.
Aku mencoba untuk mendekati mereka,
berusaha melihat apa yang sesungguhnya terjadi dari dekat. Selagi aku berjalan
mendekati, aku mendengar percakapan mereka. “Kumohon, ampuni aku, biarkan aku hidup,”
pinta Dran tersebut kepada pria yang menolongku. Kulihat Dran itu sudah
terluka, sayapnya koyak, diinjak oleh pria yang menolongku agar ia tidak
terbang lagi seraya pria tersebut mengulurkan sebuah senjata di tangan kanannya
supaya Dran tersebut tidak kabur.
“Sudah cukup untuk kalian. Terakhir kali
kalian kuberi ampun, kalian justru mengulanginya lagi,” jawab pria yang
menolongku dengan nada bicara yang amat dingin. Langsung ia menghujamkan
senjata yang ada di tangan kanannya ke kepala Dran tersebut. Senjata itu
menembus kepalanya, Dran tersebut langsung tidak bergerak, mati. Akan tetapi
tidak hanya itu, tiba-tiba Dran tersebut mulai menguap, ya, seperti air yang
menguap karena panas, ia mulai menguap dan hilang dari depan mataku. Aku
melihat ke arah Dran yang tadi ditusuk lehernya, ia pun sudah menghilang.
Pria tersebut berdiri dan langsung
berjalan meninggalkanku. “Tunggu!” seruku, ia berhenti sejenak dan berbalik
melihatku. “Si—Siapa kau? Kau ini apa?”
Pria itu melihatku dengan tatapan
yang dingin, lalu berkata, “Namaku Tatsu. Aku adalah Elvraz.”
Elvraz?! Ras yang tinggal di dalam
hutan dan memiliki kecerdasan yang tinggi?! Aku semakin bingung dengan apa yang
kulihat. Malam ini aku sudah melihat dua ras yang diragukan oleh manusia, Dran
dan Elvraz. Ras-ras yang paling ingin kutemui.
0 comments:
Posting Komentar