Sekarang, aku berada
di sebuah ruangan, bisa dikatakan ruang makan. Meja persegi panjang berada di
tengah ruangan, ada sekitar 6 buah kursi yang mengelilingi meja, sebuah kipas
angin besar menggantung di langit-langit, dari tempat aku duduk, aku dapat
melihat ujung ruangan yang adalah dapur di mana terdapat lemari atas dan bawah.
Tatsu sedang memasak di sana, sebuah masakan yang memiliki aroma yang menggoda,
sesuatu digoreng, sayangnya aku tidak tahu apa yang ia masak.
Begitu makanan itu jadi, Tatsu
langsung menaruhnya di atas meja. Ada sekitar tiga menu makanan yang
diletakkannya di atas meja—ada berbagai macam sayuran yang dialasi dengan daun
yang lebar dan panjang, ada juga sebuah kuah seperti kumpulan kacang—lalu ia
kemudian memberiku piring. Aku tidak pernah melihat makanan ini, apakah ini
makanan dari negeri lain? Ataukah ini makanan dari ras Tatsu yaitu Elvraz? Apa
ini dapat kumakan? Aku biasanya makan makanan beku yang dihangatkan di toko 24
jam, sekarang ini? Makanan yang tidak pernah kulihat sama sekali? Bagaimana aku
bisa memakannya?
“Kau pikir ini beracun sehingga kau
tidak mau makan?!” kata Tatsu memecah pikiranku. “Makanlah, jangan membuang
kebaikan hatiku memberimu makan makanan rasku.” Ia memberiku sendok dan garpu, kemudian
Tatsu mulai membersihkan peralatan masaknya.
Aku masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Mary sekarang berada di rumah sakit sedang, sedangkan aku…aku hanya diam di sini tidak melakukan apapun. Aku bingung apa yang harus kulakukan, aku tidak percaya dalam satu malam, aku melihat ada Dran dan juga Elvraz berdiri di depan mataku. Mereka adalah jawaban yang selama ini dicari oleh manusia, yaitu bahwa mereka masih ada, mereka masih hidup, ada ras lain selain manusia di dunia ini.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadanya. Apakah ada ras lain selain dirinya? Apakah selama ini kami manusia hidup di dalam kekeliruan? Mengapa semua ini tiba-tiba terjadi padaku? Mengapa Dran menyerang manusia? Apa yang harus kulakukan sekarang? Banyak pertanyaan yang aku tahu itu tidak penting, tapi penting bagiku untuk mengetahui bahwa sebenarnya aku takut, aku bingung, aku tidak tahu aku harus bergantung dengan siapa sekarang. Aku tidak memiliki orang tua, tidak punya saudara, mereka semua sudah meninggal sewaktu aku masih kecil. Karena semua ini aku tidak memiliki nafsu makan sama sekali, aku bukannya tidak mau makan, aku sedang tidak dapat makan.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu
masuk begitu Tatsu sudah selesai mencuci semua peralatan masaknya dan duduk di
meja makan. “Tatsu, aku sudah pulang,” terdengar suara seorang wanita. “Huff,
barang-barang ini begitu berat, tidak kusangka semua barang dari Ben sangat
berat.”
Aku kemudian bertatapan mata
dengannya karena aku penasaran siapa yang datang. Jarak antara meja makan
dengan pintu masuk tidak terlalu jauh sehingga aku dapat mengetahui siapa yang
masuk. Aku melihat kalau ada wanita yang begitu cantik memasuki rumah ini.
Bahkan aku yang wanita saja dapat langsung jatuh cinta kepadanya.
Wanita itu terlihat sedikit kaget
sewaktu melihatku. “Tatsu, siapa dia?” tanyanya kepada Tatsu seraya menunjukku.
“Manusia,” jawab Tatsu dengan mudah.
“MA-NU-SI-A?” tanyanya dengan nada
kesal. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari wanita tersebut, sesuatu yang
membuatku tertekan, merasa tidak enak. “Tunggu, kau memasukkan manusia ke
rumahmu sendiri? Bukankah kau sendiri benci dengan manusia?” Wanita itu menaruh
barang bawaannya dan berdiri mendekati meja makan. “Lalu, kau memasak ini semua
untuk…?”
Tatsu hanya menggerakkan dagunya
mengarahkannya kepadaku. Ia sama sekali tidak melakukan apa-apa, hanya duduk
dengan tenang dan melipat tangannya.
Wanita itu kemudian menaruh
tangannya di atas meja, menarik dan menghela nafas yang panjang. “Tatsu,
bukankah kau sendiri mengatakan kepadaku jangan pernah membawa siapapun ke
dalam rumahmu, tapi kau sendiri…”
“Ini rumahku Norm. Aku berhak
membawanya masuk,” potong Tatsu dengan nada yang dingin. “Apa kau tidak senang
dengan keputusanku?”
“Tidak senang? Oh tentu tidak, aku
sangat senang dengan keputusanmu, Tatsu.” Norm kemudian berjalan ke arah Tatsu.
“Aku sangat senang dengan hal itu sampai-sampai aku ingin MENG-HAN-CUR-KAN
manusia itu dengan tanganku sendiri, kau tidak keberatan kan?” Terasa kalau ada
sesuatu dari Norm yang terus menekanku, bahkan aku merasa kalau di atas kepala
Norm, terlihat gelombang-gelombang udara merah, juga aku mulai merasakan kalau
piring di meja mulai bergetar.
“Masuk ke kamarmu, Norm.”
“Oh, tidak. Aku tidak akan masuk
sampai aku ME-RE-MUK-KAN MANUSIA ITU!!” Teriakan Norm begitu memekakkan
telingaku. Aku langsung menutup telinga karena tidak tahan dengan teriakannya,
kaca di lemari piring pecah, piring di mejaku mulai retak, dan aku dapat
melihat kalau Norm mulai bergerak ke arahku dan ingin mengambil sesuatu dari
kantong celananya, kumohon, itu bukan benda yang dapat membunuhku, aku sangat
takut, aku tidak dapat bergerak, kakiku gemetar lagi, ketakutan sewaktu Dran
menyerangku mulai kembali lagi.
Tatsu kemudian berdiri, memegang
bahu Norm. “Masuk ke kamarmu sekarang. Jangan sampai aku mengulanginya lagi,”
katanya dengan nada dingin, tapi aku tahu kata-katanya merupakan kata-kata yang
begitu tajam.
Norm terlihat tidak senang dengan
keputusan Tatsu. Dengan raut muka kesal dan marah, ia berjalan masuk ke dalam
dan kemudian membanting pintu kamar. Aku semakin bingung dengan apa yang
kulihat dan kudengar. Norm memanggilku manusia, sedangkan dirinya terlihat sama
persis dengan manusia. Apakah Norm juga Elvraz? Semakin aku bingung, semakin
aku tidak memiliki nafsu makan, semakin aku justru berhati-hati dengan keadaan
di rumah ini.
“Tidak usah memikirkan Norm. Makan
saja,” kata Tatsu mungkin mengetahui keresahanku.
Aku berusaha membuka mulutku dan
bertanya, “Se…Sebenarnya, kau si…siapa?” Hanya kata-kata itu saja yang
terlontar dari mulutku. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kutanyakan, aku
takut. Aku berada di rumah orang yang asing bagiku, dan aku takut sekali untuk
menerima keramahannya kepadaku. Rasanya aku ingin sekali pulang, aku begitu
ingin berada di rumah di mana Mary sudah menungguku pulang.
Selama beberapa saat, Tatsu tidak
menjawab pertanyaanku. Ia justru berdiri, meninggalkan meja makan, dan masuk ke
dalam kamar yang dimasuki oleh Norm. Aku merasa semakin takut. Apa yang akan
mereka lakukan terhadapku? Apakah mereka akan membunuhku sama seperti Dran mau
memakanku?
Tidak lama, Tatsu dan Norm keluar
dari kamar. Norm, masih dengan muka yang kesal, duduk di meja makan sebelah
kiriku, sedangkan Tatsu kembali duduk di hadapanku. Tatsu melipat kedua
tangannya dan menopang dagu. Aku takut, takut dengan keadaan tidak pasti
seperti ini. “Namaku, Norm. Siapa namamu?” tanya Norm tiba-tiba dengan nada
benci kepadaku.
Aku kaget mendengar itu.
Norm…menanyakan namaku.
“AKU TANYA SIAPA NAMAMU?!” seru Norm
membuat telingaku hampir meledak sambil menggebrakkan meja.
“Berhenti berteriak Norm. Kau
membuat tamu kita ketakutan,” kata Tatsu memperingatkan Norm.
“Dia bukan tamuku, DIA ITU TAMUMU.
Aku tidak ada urusan dengan manusia, dan tidak mau berurusan dengan manusia. Aku
melakukan ini hanya karena kau menyuruhku, itu saja.” Norm membuang mukanya
dariku.
Terjadi keheningan yang panjang
diantara kami bertiga selama 5 menit. Justru, aku mulai merasa kalau aku tidak
sopan terhadap mereka semua. Akhirnya aku membuka mulut dan berkata,
“Namaku…Elizabeth. Aku..minta maaf..atas ketidaksopananku.”
“Baiklah, tugasku sudah selesai
Tatsu.” Norm kemudian berdiri dan berjalan ke kamarnya seraya berkata, “Lebih
lama lagi aku bersamanya aku bisa gila!” Norm menutup pintu kamar tersebut.
“Namaku Tatsu, dan dia Norm.
Sekarang kita sudah saling mengenal. Makan makananmu,” kata Tatsu dengan
dingin. Tapi entah kenapa aku merasa kehangatan dari hatinya. Walaupun
kata-katanya seakan ia tidak peduli, ia sebenarnya peduli denganku, dengan
Norm.
Akhirnya aku mengambil sendok dan
garpu yang ada di hadapanku, dan mulai memakan masakan yang sudah dihidangkan
oleh Tatsu di depanku. Rasanya sangat enak, benar-benar berbeda dari yang
pernah kusantap selama ini. Tapi…walaupun enak, aku masih tidak memiliki nafsu
makan karena mengingat Dran yang begitu menyeramkan. Setelah beberapa suap, aku sudah tidak mampu
untuk memakannya lagi. Ingin sekali rasanya meminta maaf kepada Tatsu.
Tatsu kemudian berdiri, mengambil
tudung saji yang besar untuk menutupi satu meja makan. Kemudian ia berdiri dan mengantarku
ke depan pintu kamar. “Hari ini kau tidur di sini dulu. Besok, kau pulang.”
“Tapi aku tidak mau—”
“Dokter baru saja melaporkan kalau
temanmu jatuh ke dalam koma. Kita tidak tahu kapan ia akan bangun.”
Aku kaget. Badanku kaku, tidak tahu
apa yang harus kuperbuat. Saudaraku satu-satunya, temanku yang selalu bersama
denganku, sahabat terbaikku yang sangat kusayangi jatuh ke dalam koma. Entah
kapan ia akan bangun, berapa hari, berapa minggu, atau berapa puluh tahun,
mungkin ia tidak akan bangun sama sekali. Kenapa harus begini, pertama orang
tuaku, sekarang Mary?!
Tatsu kemudian membukakan pintu
tersebut dan menyalakan lampunya. Aku yang masih berada dalam kegeraman,
kekesalan tidak dapat melindungi Mary, marah terhadap diriku sendiri. Bagaimana
pun caranya, aku harus membalas dendam. Walaupun Dran yang membuat Mary koma
sudah tiada, aku tetap tidak terima. Aku akan berusaha mengejar Dran sendiri
kalau aku mampu.
Aku kemudian membaringkan badanku,
tidak dapat tidur. Sedih, kesal, marah, kecewa dengan diriku sendiri membuatku
tidak dapat tidur. Tidak lama aku mendengar suara dari luar kamar. Tatsu dan
Norm sedang berbincang di ruang keluarga. Aku membuka pintu sedikit agar dapat
melihat apa yang mereka lakukan, tapi tidak terlalu jelas.
“Kenapa kau membiarkan manusia itu
tidur di sini, Tatsu?! Kau kan bisa menyuruhnya untuk pulang saja!” seru Norm
seraya berdiri di hadapan Tatsu yang sedang duduk di sofa ruang tamu, aku hanya
dapat melihat muka Norm yang sedang tegang marah.
“Duduk dulu, Norm. Tidak usah
marah-marah,” balas Tatsu dengan nada suara yang dingin. “Ada yang harus
kukatakan padamu. Ben baru saja mengirimkan sebuah paket untukku. Aku harus
memperlihatkan ini kepadamu juga.”
Setelah Norm duduk, Tatsu kemudian
mengeluarkan sebuah benda berbentuk CD yang cukup tebal, mungkin sekitar 3 buah
CD yang ditumpuk, lalu menaruhnya di atas meja. Seketika, benda tersebut
mengeluarkan sebuah gambar proyektor di mana ada orang yang kecil berdiri di
sana.
“Hai Tatsu,” kata orang yang kecil
tersebut. “Lama aku tidak mendapat kabar darimu. Entah sudah berapa tahun.
Begitu juga dengan Norm, ia pasti sudah besar sekarang. Aku tidak akan
berbasa-basi lagi, sang Ratu membutuhkanmu sekarang. Aku tidak tahu apa yang
akan ia katakan, tapi ia memerintahkanku untuk memanggilmu pulang dari sana.
Kau boleh membawa Norm, akan tetapi Ratu memberiku pesan agar kau tidak membawa
siapapun lagi selain Norm ke dalam dunia Elvraz. Itu saja pesan singkatku.
Sampai jumpa nanti.” Kemudian bayangan tersebut menghilang.
“Kenapa sang Ratu memanggilmu?
Kira-kira kau tahu?” tanya Norm kepada Tatsu.
Tatsu hanya diam, terlihat seperti
merenungkan pesan yang diberikan kepadanya tadi. Kemudian ia berdiri,
“Bersiap-siap lah, Norm. Kita akan berangkat besok. Sepertinya ini mendesak
sampai Ratu memerintahkan Ben untuk memanggilku.” Norm segera berdiri hendak
menuju ke kamarnya.
Inilah kesempatanku, kesempatanku
untuk dapat membalaskan dendamku. Aku langsung membuka kamar dan berteriak,
“Biarkan aku ikut!”
Norm ternyata ada di depanku begitu
aku berteriak begitu. Raut mukanya penuh dengan kekagetan. “Ternyata kau
menguping daritadi dasar manusia tidak tahu diri!” seru Norm seraya menarik
kerah bajuku dan hendak memukulku. Tapi aku tidak gusar, aku justru menatapnya
kembali dengan perasaan marah.
“Tidurlah, kau akan ikut kami
berangkat pagi-pagi.” Perkataan Tatsu langsung membuat Norm berhenti dan
melepaskanku.
“Tatsu, apa maksudmu? Kau mau
membawa manusia ini ke hadapan Ratu? Apa kau tidak memikirkan apa yang akan
Ratu lakukan kepadanya. Ben pun sudah memperingatkan kamu hanya untuk
membawaku, bukan manusia ini!!”
“Aku yang memutuskan. Bersiaplah
Norm. Lalu Elizabeth—”
“Panggil saja Elly,” potongku.
“Elly, tidurlah. Kau akan
kubangunkan pada saat kita berangkat.”
“Tapi Tatsu—”
“Aku yang memutuskan semuanya, aku
juga akan memberikan alasan yang masuk akal kepada Ratu!” tegas Tatsu seraya
memotong Norm. Norm hanya bisa diam, kemudian ia bergegas bersiap-siap, begitu
juga Tatsu. Sementara itu, aku mulai masuk kamar dan berusaha untuk tidur,
walaupun bagiku ini merupakan hal yang sulit, karena aku memikirkan apa yang
terjadi pada hari ini. Mary yang terluka akibat serangan dari Dran hingga koma,
dan aku yang akan melakukan sebuah perjalanan menuju ke dunia Elvraz.
Perjalanan yang sepertinya akan menjadi panjang. Tapi aku memiliki tujuan, aku
ingin membalaskan dendamku akan Mary kepada para Dran, aku akan meminta tolong
para Elvraz agar dapat membantuku membalaskan dendam tersebut.
0 comments:
Posting Komentar