Senin, 23 September 2013

Thare: Bab 2-Perjalanan

Sekarang, aku berada di sebuah ruangan, bisa dikatakan ruang makan. Meja persegi panjang berada di tengah ruangan, ada sekitar 6 buah kursi yang mengelilingi meja, sebuah kipas angin besar menggantung di langit-langit, dari tempat aku duduk, aku dapat melihat ujung ruangan yang adalah dapur di mana terdapat lemari atas dan bawah. Tatsu sedang memasak di sana, sebuah masakan yang memiliki aroma yang menggoda, sesuatu digoreng, sayangnya aku tidak tahu apa yang ia masak.
            Begitu makanan itu jadi, Tatsu langsung menaruhnya di atas meja. Ada sekitar tiga menu makanan yang diletakkannya di atas meja—ada berbagai macam sayuran yang dialasi dengan daun yang lebar dan panjang, ada juga sebuah kuah seperti kumpulan kacang—lalu ia kemudian memberiku piring. Aku tidak pernah melihat makanan ini, apakah ini makanan dari negeri lain? Ataukah ini makanan dari ras Tatsu yaitu Elvraz? Apa ini dapat kumakan? Aku biasanya makan makanan beku yang dihangatkan di toko 24 jam, sekarang ini? Makanan yang tidak pernah kulihat sama sekali? Bagaimana aku bisa memakannya?
            “Kau pikir ini beracun sehingga kau tidak mau makan?!” kata Tatsu memecah pikiranku. “Makanlah, jangan membuang kebaikan hatiku memberimu makan makanan rasku.” Ia memberiku sendok dan garpu, kemudian Tatsu mulai membersihkan peralatan masaknya.

            Aku masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Mary sekarang berada di rumah sakit sedang, sedangkan aku…aku hanya diam di sini tidak melakukan apapun. Aku bingung apa yang harus kulakukan, aku tidak percaya dalam satu malam, aku melihat ada Dran dan juga Elvraz berdiri di depan mataku. Mereka adalah jawaban yang selama ini dicari oleh manusia, yaitu bahwa mereka masih ada, mereka masih hidup, ada ras lain selain manusia di dunia ini.
            Banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadanya. Apakah ada ras lain selain dirinya? Apakah selama ini kami manusia hidup di dalam kekeliruan? Mengapa semua ini tiba-tiba terjadi padaku? Mengapa Dran menyerang manusia? Apa yang harus kulakukan sekarang? Banyak pertanyaan yang aku tahu itu tidak penting, tapi penting bagiku untuk mengetahui bahwa sebenarnya aku takut, aku bingung, aku tidak tahu aku harus bergantung dengan siapa sekarang. Aku tidak memiliki orang tua, tidak punya saudara, mereka semua sudah meninggal sewaktu aku masih kecil. Karena semua ini aku tidak memiliki nafsu makan sama sekali, aku bukannya tidak mau makan, aku sedang tidak dapat makan.
            Tiba-tiba ada yang membuka pintu masuk begitu Tatsu sudah selesai mencuci semua peralatan masaknya dan duduk di meja makan. “Tatsu, aku sudah pulang,” terdengar suara seorang wanita. “Huff, barang-barang ini begitu berat, tidak kusangka semua barang dari Ben sangat berat.”
            Aku kemudian bertatapan mata dengannya karena aku penasaran siapa yang datang. Jarak antara meja makan dengan pintu masuk tidak terlalu jauh sehingga aku dapat mengetahui siapa yang masuk. Aku melihat kalau ada wanita yang begitu cantik memasuki rumah ini. Bahkan aku yang wanita saja dapat langsung jatuh cinta kepadanya.
            Wanita itu terlihat sedikit kaget sewaktu melihatku. “Tatsu, siapa dia?” tanyanya kepada Tatsu seraya menunjukku.
            “Manusia,” jawab Tatsu dengan mudah.
            “MA-NU-SI-A?” tanyanya dengan nada kesal. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari wanita tersebut, sesuatu yang membuatku tertekan, merasa tidak enak. “Tunggu, kau memasukkan manusia ke rumahmu sendiri? Bukankah kau sendiri benci dengan manusia?” Wanita itu menaruh barang bawaannya dan berdiri mendekati meja makan. “Lalu, kau memasak ini semua untuk…?”
            Tatsu hanya menggerakkan dagunya mengarahkannya kepadaku. Ia sama sekali tidak melakukan apa-apa, hanya duduk dengan tenang dan melipat tangannya.
            Wanita itu kemudian menaruh tangannya di atas meja, menarik dan menghela nafas yang panjang. “Tatsu, bukankah kau sendiri mengatakan kepadaku jangan pernah membawa siapapun ke dalam rumahmu, tapi kau sendiri…”
            “Ini rumahku Norm. Aku berhak membawanya masuk,” potong Tatsu dengan nada yang dingin. “Apa kau tidak senang dengan keputusanku?”
            “Tidak senang? Oh tentu tidak, aku sangat senang dengan keputusanmu, Tatsu.” Norm kemudian berjalan ke arah Tatsu. “Aku sangat senang dengan hal itu sampai-sampai aku ingin MENG-HAN-CUR-KAN manusia itu dengan tanganku sendiri, kau tidak keberatan kan?” Terasa kalau ada sesuatu dari Norm yang terus menekanku, bahkan aku merasa kalau di atas kepala Norm, terlihat gelombang-gelombang udara merah, juga aku mulai merasakan kalau piring di meja mulai bergetar.
            “Masuk ke kamarmu, Norm.”
            “Oh, tidak. Aku tidak akan masuk sampai aku ME-RE-MUK-KAN MANUSIA ITU!!” Teriakan Norm begitu memekakkan telingaku. Aku langsung menutup telinga karena tidak tahan dengan teriakannya, kaca di lemari piring pecah, piring di mejaku mulai retak, dan aku dapat melihat kalau Norm mulai bergerak ke arahku dan ingin mengambil sesuatu dari kantong celananya, kumohon, itu bukan benda yang dapat membunuhku, aku sangat takut, aku tidak dapat bergerak, kakiku gemetar lagi, ketakutan sewaktu Dran menyerangku mulai kembali lagi.
            Tatsu kemudian berdiri, memegang bahu Norm. “Masuk ke kamarmu sekarang. Jangan sampai aku mengulanginya lagi,” katanya dengan nada dingin, tapi aku tahu kata-katanya merupakan kata-kata yang begitu tajam.
            Norm terlihat tidak senang dengan keputusan Tatsu. Dengan raut muka kesal dan marah, ia berjalan masuk ke dalam dan kemudian membanting pintu kamar. Aku semakin bingung dengan apa yang kulihat dan kudengar. Norm memanggilku manusia, sedangkan dirinya terlihat sama persis dengan manusia. Apakah Norm juga Elvraz? Semakin aku bingung, semakin aku tidak memiliki nafsu makan, semakin aku justru berhati-hati dengan keadaan di rumah ini.
            “Tidak usah memikirkan Norm. Makan saja,” kata Tatsu mungkin mengetahui keresahanku.
            Aku berusaha membuka mulutku dan bertanya, “Se…Sebenarnya, kau si…siapa?” Hanya kata-kata itu saja yang terlontar dari mulutku. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kutanyakan, aku takut. Aku berada di rumah orang yang asing bagiku, dan aku takut sekali untuk menerima keramahannya kepadaku. Rasanya aku ingin sekali pulang, aku begitu ingin berada di rumah di mana Mary sudah menungguku pulang.
            Selama beberapa saat, Tatsu tidak menjawab pertanyaanku. Ia justru berdiri, meninggalkan meja makan, dan masuk ke dalam kamar yang dimasuki oleh Norm. Aku merasa semakin takut. Apa yang akan mereka lakukan terhadapku? Apakah mereka akan membunuhku sama seperti Dran mau memakanku?
            Tidak lama, Tatsu dan Norm keluar dari kamar. Norm, masih dengan muka yang kesal, duduk di meja makan sebelah kiriku, sedangkan Tatsu kembali duduk di hadapanku. Tatsu melipat kedua tangannya dan menopang dagu. Aku takut, takut dengan keadaan tidak pasti seperti ini. “Namaku, Norm. Siapa namamu?” tanya Norm tiba-tiba dengan nada benci kepadaku.
            Aku kaget mendengar itu. Norm…menanyakan namaku.
            “AKU TANYA SIAPA NAMAMU?!” seru Norm membuat telingaku hampir meledak sambil menggebrakkan meja.
            “Berhenti berteriak Norm. Kau membuat tamu kita ketakutan,” kata Tatsu memperingatkan Norm.
            “Dia bukan tamuku, DIA ITU TAMUMU. Aku tidak ada urusan dengan manusia, dan tidak mau berurusan dengan manusia. Aku melakukan ini hanya karena kau menyuruhku, itu saja.” Norm membuang mukanya dariku.
            Terjadi keheningan yang panjang diantara kami bertiga selama 5 menit. Justru, aku mulai merasa kalau aku tidak sopan terhadap mereka semua. Akhirnya aku membuka mulut dan berkata, “Namaku…Elizabeth. Aku..minta maaf..atas ketidaksopananku.”
            “Baiklah, tugasku sudah selesai Tatsu.” Norm kemudian berdiri dan berjalan ke kamarnya seraya berkata, “Lebih lama lagi aku bersamanya aku bisa gila!” Norm menutup pintu kamar tersebut.
            “Namaku Tatsu, dan dia Norm. Sekarang kita sudah saling mengenal. Makan makananmu,” kata Tatsu dengan dingin. Tapi entah kenapa aku merasa kehangatan dari hatinya. Walaupun kata-katanya seakan ia tidak peduli, ia sebenarnya peduli denganku, dengan Norm.
            Akhirnya aku mengambil sendok dan garpu yang ada di hadapanku, dan mulai memakan masakan yang sudah dihidangkan oleh Tatsu di depanku. Rasanya sangat enak, benar-benar berbeda dari yang pernah kusantap selama ini. Tapi…walaupun enak, aku masih tidak memiliki nafsu makan karena mengingat Dran yang begitu menyeramkan.  Setelah beberapa suap, aku sudah tidak mampu untuk memakannya lagi. Ingin sekali rasanya meminta maaf kepada Tatsu.
            Tatsu kemudian berdiri, mengambil tudung saji yang besar untuk menutupi satu meja makan. Kemudian ia berdiri dan mengantarku ke depan pintu kamar. “Hari ini kau tidur di sini dulu. Besok, kau pulang.”
            “Tapi aku tidak mau—”
            “Dokter baru saja melaporkan kalau temanmu jatuh ke dalam koma. Kita tidak tahu kapan ia akan bangun.”
            Aku kaget. Badanku kaku, tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Saudaraku satu-satunya, temanku yang selalu bersama denganku, sahabat terbaikku yang sangat kusayangi jatuh ke dalam koma. Entah kapan ia akan bangun, berapa hari, berapa minggu, atau berapa puluh tahun, mungkin ia tidak akan bangun sama sekali. Kenapa harus begini, pertama orang tuaku, sekarang Mary?!
            Tatsu kemudian membukakan pintu tersebut dan menyalakan lampunya. Aku yang masih berada dalam kegeraman, kekesalan tidak dapat melindungi Mary, marah terhadap diriku sendiri. Bagaimana pun caranya, aku harus membalas dendam. Walaupun Dran yang membuat Mary koma sudah tiada, aku tetap tidak terima. Aku akan berusaha mengejar Dran sendiri kalau aku mampu.
            Aku kemudian membaringkan badanku, tidak dapat tidur. Sedih, kesal, marah, kecewa dengan diriku sendiri membuatku tidak dapat tidur. Tidak lama aku mendengar suara dari luar kamar. Tatsu dan Norm sedang berbincang di ruang keluarga. Aku membuka pintu sedikit agar dapat melihat apa yang mereka lakukan, tapi tidak terlalu jelas.
            “Kenapa kau membiarkan manusia itu tidur di sini, Tatsu?! Kau kan bisa menyuruhnya untuk pulang saja!” seru Norm seraya berdiri di hadapan Tatsu yang sedang duduk di sofa ruang tamu, aku hanya dapat melihat muka Norm yang sedang tegang marah.
            “Duduk dulu, Norm. Tidak usah marah-marah,” balas Tatsu dengan nada suara yang dingin. “Ada yang harus kukatakan padamu. Ben baru saja mengirimkan sebuah paket untukku. Aku harus memperlihatkan ini kepadamu juga.”
            Setelah Norm duduk, Tatsu kemudian mengeluarkan sebuah benda berbentuk CD yang cukup tebal, mungkin sekitar 3 buah CD yang ditumpuk, lalu menaruhnya di atas meja. Seketika, benda tersebut mengeluarkan sebuah gambar proyektor di mana ada orang yang kecil berdiri di sana.
            “Hai Tatsu,” kata orang yang kecil tersebut. “Lama aku tidak mendapat kabar darimu. Entah sudah berapa tahun. Begitu juga dengan Norm, ia pasti sudah besar sekarang. Aku tidak akan berbasa-basi lagi, sang Ratu membutuhkanmu sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan, tapi ia memerintahkanku untuk memanggilmu pulang dari sana. Kau boleh membawa Norm, akan tetapi Ratu memberiku pesan agar kau tidak membawa siapapun lagi selain Norm ke dalam dunia Elvraz. Itu saja pesan singkatku. Sampai jumpa nanti.” Kemudian bayangan tersebut menghilang.
            “Kenapa sang Ratu memanggilmu? Kira-kira kau tahu?” tanya Norm kepada Tatsu.
            Tatsu hanya diam, terlihat seperti merenungkan pesan yang diberikan kepadanya tadi. Kemudian ia berdiri, “Bersiap-siap lah, Norm. Kita akan berangkat besok. Sepertinya ini mendesak sampai Ratu memerintahkan Ben untuk memanggilku.” Norm segera berdiri hendak menuju ke kamarnya.
            Inilah kesempatanku, kesempatanku untuk dapat membalaskan dendamku. Aku langsung membuka kamar dan berteriak, “Biarkan aku ikut!”
            Norm ternyata ada di depanku begitu aku berteriak begitu. Raut mukanya penuh dengan kekagetan. “Ternyata kau menguping daritadi dasar manusia tidak tahu diri!” seru Norm seraya menarik kerah bajuku dan hendak memukulku. Tapi aku tidak gusar, aku justru menatapnya kembali dengan perasaan marah.
            “Tidurlah, kau akan ikut kami berangkat pagi-pagi.” Perkataan Tatsu langsung membuat Norm berhenti dan melepaskanku.
            “Tatsu, apa maksudmu? Kau mau membawa manusia ini ke hadapan Ratu? Apa kau tidak memikirkan apa yang akan Ratu lakukan kepadanya. Ben pun sudah memperingatkan kamu hanya untuk membawaku, bukan manusia ini!!”
            “Aku yang memutuskan. Bersiaplah Norm. Lalu Elizabeth—”
            “Panggil saja Elly,” potongku.
            “Elly, tidurlah. Kau akan kubangunkan pada saat kita berangkat.”
            “Tapi Tatsu—”
            “Aku yang memutuskan semuanya, aku juga akan memberikan alasan yang masuk akal kepada Ratu!” tegas Tatsu seraya memotong Norm. Norm hanya bisa diam, kemudian ia bergegas bersiap-siap, begitu juga Tatsu. Sementara itu, aku mulai masuk kamar dan berusaha untuk tidur, walaupun bagiku ini merupakan hal yang sulit, karena aku memikirkan apa yang terjadi pada hari ini. Mary yang terluka akibat serangan dari Dran hingga koma, dan aku yang akan melakukan sebuah perjalanan menuju ke dunia Elvraz. Perjalanan yang sepertinya akan menjadi panjang. Tapi aku memiliki tujuan, aku ingin membalaskan dendamku akan Mary kepada para Dran, aku akan meminta tolong para Elvraz agar dapat membantuku membalaskan dendam tersebut.

0 comments:

Posting Komentar