Sebelumnya gw minta maaf kalo ada revisi. Ini hasil pemikiran gw yang cukup lama, gw berusaha menampilkan gaya bahasa yang enak dan mudah dipahami, akan tetapi tetap menyampaikan bagian yang harus membuat orang berpikir. Ini baru awal, kalo ada yang mau kasih komen, silahkan kasih, gw terima kritik sarannya kok. Terima kasih yang udah mau baca.
BAB 1—Rara Tata
Ada sebuah kafe yang menarik
perhatian semua orang yang tinggal disekitarnya. Kafe ini menarik karena ia berbeda
dengan kafe lain yang hanya memakai meja dan kursi dengan dekorasi ruangan
untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi, pemilik kafe membuat kafe ini
menjadi sesuatu yang unik. Kafe ini memiliki setting alam yang menenangkan hati. Sebenarnya kafe ini hanyalah
taman yang ada di belakang rumahnya, karena taman ini luas, ia membangun usaha
kafe ini. Di sekeliling taman, terdapat pohon-pohon yang menyegarkan mata. Di
kiri ada pohon teh, di kanan ada pohon cemara, di depan ada pohon jambu, dan di
belakang ada pohon anggur. Lalu terdapat gerbang masuk yang disuluri oleh pohon
anggur tersebut. Kemudian di depan pohon-pohon tersebut, di tanam bunga yang
memberikan aroma yang menyegarkan seperti bunga melati, mawar, anggrek, dan
juga yang lainnya. Di setiap sudut taman terdapat batu-batu besar agar setiap
orang dapat duduk di atas batu tersebut. Lalu di tengah-tengah taman terdapat 4
kursi taman yang menghadap ke arah yang berbeda. Kalau diperhatikan
masing-masing kursi menghadap ke 4 arah mata angin, Utara, Barat, Selatan,
Timur. Di sisi kanan, kiri, depan, dan belakang terdapat kursi-kursi dengan
meja bundar di tengah-tengah kursi tersebut. Setiap meja, kursi, dan batu
dipayungi dengan payung-payung yang besar sehingga para pelanggan akan
terlindung dari panas dan hujan.
Sebelum orang-orang dapat duduk
dengan tenang di dalam taman seperti itu, mereka harus melewati ruang tamu dari
pemilik rumah yang menjadi tempat memesan dan kasir. Para pembuat minuman dan
makanan bekerja di dapur yang berada di belakangnya. Dua perempuan yang masih
mengenakan seragam SMA masuk ke dalam dan mereka memesan minuman. “Earl Grey Tea dan Green Tea panas masing-masing satu,” kata salah seorang dari
perempuan itu. Mereka kemudian membayarnya dan masuk ke dalam taman tersebut.
Mereka duduk di tempat favorit mereka, yaitu di sudut kiri, di antara pohon teh
dan pohon jambu, di batu besar tersebut.
Sewaktu mereka duduk, dapat terlihat
bahwa mereka berdua adalah kembar. Hanya ada satu hal yang membedakan mereka, yaitu
salah satu dari mereka mengenakan kacamata dengan frame berwarna hijau. “Gimana, Ta. Udah mendingan?” tanya perempuan
yang mengenakan kacamata sambil menghadap ke arah kembarannya.
“Yaa, lumayan lah, Ra. Gua udah gak
terlalu sedih lagi kok,” jawab kembarannya.
Perempuan yang memakai kacamata
bernama Rara, sedangkan yang tidak memakai kacamata bernama Tata. Mereka sudah
cukup sering untuk berkunjung ke kafe ini agar mereka dapat minum teh-teh yang
berkualitas. Keduanya sama-sama penggemar teh, hanya saja mereka memiliki
kegemaran yang berbeda. Rara menyukai Green
Tea, sedangkan Tata menyukai Earl
Grey Tea.
Seperti biasa keadaan kafe pada
siang hari ini cukup ramai, yang biasanya datang ke kafe ini adalah para
pelanggan tetap yang memang sudah mengenal kafe ini sejak pertama kali dibuka.
“Ta, kamu inget gak kapan pertama kali kita ke kafe ini?” tanya Rara seraya
memandang ke langit yang merupakan lukisan alami dari kafe tersebut.
Tata tertawa kecil. “Gak mungkin gua
gak inget. Lu yang ajak gua ke sini ‘kan? Waktu itu lu lagi patah hati
gara-gara Miko jalan sama cewek lain. Lu sampe minum bergelas-gelas teh dan
makan sampai 5 piring,” Tata menggelengkan kepala seakan tidak percaya akan apa
yang Rara lakukan waktu itu. “Buat orang yang punya badan seukuran lu, ga bakal
ada orang yang nyangka kalo lu itu paling suka makan kalo lagi kesel.”
“Ya mungkin aku memang orang yang
suka makan, tapi untungnya waktu itu cuma salah paham. Miko jalan sama
perempuan itu karena perempuan itu adik sepupunya. Waktu itu juga dia lagi
jalan-jalan sama sepupunya, cuma mereka lagi pisah aja.”
“Beruntung ya Miko punya cewek kaya
lu, Ra. Udah baik, pengertian, ga gampang marah lagi.” Tata juga ikut memandang
ke langit. Hari itu begitu cerah, angin berhembus lembut sehingga udara pun
menyegarkan hati siapapun yang datang ke kafe tersebut.
Tidak lama pesanan mereka berdua
datang. Rara mengambil cangkir berisi Green
Tea, sedangkan Tata mengambil Earl
Grey Tea. Mereka berdua menghirup aroma yang dihasilkan oleh teh tersebut
dan menyeruputnya sedikit. Setelah meminumnya sedikit, mereka berdua membuang
nafas lega karena dengan minuman itu, hati mereka ditenangkan.
“Earl
Grey emang enak aromanya,” kata Tata seraya menghirup aroma yang dihasilkan
teh tersebut.
“Green
Tea juga enak rasa pahitnya.” Rara menyeruput lagi teh favoritnya.
“Coba semua cowo itu kaya si Earl ini ya. Mereka memiliki aroma yang
menyegarkan, menenangkan hati, membuat perasaan tenteram, dan selalu ada di
dekat kita.”
“Pasti ada cowo yang kaya gitu kok,
Ta. Tenang aja, kamu pasti menemukannya.”
Tata menaruh cangkir tersebut
disampingnya. “Ra, kalo aja gua bisa temuin orang kaya gitu, hidup gua udah ga
menyakitkan kaya gini, Ra.”
Menyakitkan.
Kata tersebut juga menusuk hati Rara. Bagaimana tidak, ayah mereka,
satu-satunya orang tua yang mereka miliki, telah mengkhianati mereka. Ayah mereka
selalu membawa pulang wanita yang berlainan, entah apa tujuannya, tapi yang
pasti Rara dan Tata tidak suka akan apa yang terjadi. Rara dan Tata lebih
menyukai kalau ayah mereka selalu ada di rumah, makan bersama mereka,
berbincang bersama, dan juga melakukan kegiatan ayah dan anak bersama-sama.
Ibu mereka meninggal sudah sejak 5
tahun yang lalu dikarenakan sebuah penyakit ganas yang menyerangnya. Ibu mereka
berpesan kepada mereka agar menuruti ayah mereka dan dalam keadaan apapun,
tetap menyayangi ayah mereka. Akan tetapi hal itu amat sulit bagi Rara dan Tata
karena ayah mereka sekarang selalu bersama dengan wanita yang lain, jarang di
rumah, kalaupun sudah pulang, mereka tidak dapat bertemu muka dengannya karena
sang ayah sibuk dengan pekerjaannya.
Rara kembali menyeruput teh nya,
berusaha menghilangkan ingatan akan perkataan ibunya. Setidaknya yang kami
lakukan sekarang adalah jalan terbaik. Aku dan Tata akan selalu bersama dan
tidak ada yang dapat memisahkan kita, pikir Rara.
“Ra,” Rara menoleh ke arah Tata, “lu
bakal selalu sama gua kan? Apapun yang terjadi?”
Selalu
bersama. Itulah harapan yang dapat Rara pegang. Apapun yang mereka hadapi,
mereka pasti dapat menghadapinya bersama. Rara mengangguk. “Iya, Ta. Kita bakal
selalu bersama. Apapun yang terjadi.”
Tata tersenyum. “Iya, kaya sekarang
gua lagi marah banget sama Jose gara-gara dia main sama cewek lain, lu ada di
sebelah gua dan bantu gua tenangin diri.” Tata berdiri seraya memandang langit.
“Lu sama gua beda, tapi sama. Kita saling melengkapi,” kemudian Tata menoleh ke
arah Rara, “ya ‘kan, Ra?”
Melihat hal itu Rara ikut tersenyum
lalu mengambil cangkir teh milik Tata dan memberikannya kepada Tata. “Iya, kita
saling melengkapi.”
Tata mengambil cangkir teh tersebut
dan bersulang bersama Rara.
0 comments:
Posting Komentar