Rabu, 26 Desember 2012

Bab 1--Rara Tata (First Revision)


Sebelumnya gw minta maaf kalo ada revisi. Ini hasil pemikiran gw yang cukup lama, gw berusaha menampilkan gaya bahasa yang enak dan mudah dipahami, akan tetapi tetap menyampaikan bagian yang harus membuat orang berpikir. Ini baru awal, kalo ada yang mau kasih komen, silahkan kasih, gw terima kritik sarannya kok. Terima kasih yang udah mau baca.


BAB 1—Rara Tata

            Ada sebuah kafe yang menarik perhatian semua orang yang tinggal disekitarnya. Kafe ini menarik karena ia berbeda dengan kafe lain yang hanya memakai meja dan kursi dengan dekorasi ruangan untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi, pemilik kafe membuat kafe ini menjadi sesuatu yang unik. Kafe ini memiliki setting alam yang menenangkan hati. Sebenarnya kafe ini hanyalah taman yang ada di belakang rumahnya, karena taman ini luas, ia membangun usaha kafe ini. Di sekeliling taman, terdapat pohon-pohon yang menyegarkan mata. Di kiri ada pohon teh, di kanan ada pohon cemara, di depan ada pohon jambu, dan di belakang ada pohon anggur. Lalu terdapat gerbang masuk yang disuluri oleh pohon anggur tersebut. Kemudian di depan pohon-pohon tersebut, di tanam bunga yang memberikan aroma yang menyegarkan seperti bunga melati, mawar, anggrek, dan juga yang lainnya. Di setiap sudut taman terdapat batu-batu besar agar setiap orang dapat duduk di atas batu tersebut. Lalu di tengah-tengah taman terdapat 4 kursi taman yang menghadap ke arah yang berbeda. Kalau diperhatikan masing-masing kursi menghadap ke 4 arah mata angin, Utara, Barat, Selatan, Timur. Di sisi kanan, kiri, depan, dan belakang terdapat kursi-kursi dengan meja bundar di tengah-tengah kursi tersebut. Setiap meja, kursi, dan batu dipayungi dengan payung-payung yang besar sehingga para pelanggan akan terlindung dari panas dan hujan.
            Sebelum orang-orang dapat duduk dengan tenang di dalam taman seperti itu, mereka harus melewati ruang tamu dari pemilik rumah yang menjadi tempat memesan dan kasir. Para pembuat minuman dan makanan bekerja di dapur yang berada di belakangnya. Dua perempuan yang masih mengenakan seragam SMA masuk ke dalam dan mereka memesan minuman. “Earl Grey Tea dan Green Tea panas masing-masing satu,” kata salah seorang dari perempuan itu. Mereka kemudian membayarnya dan masuk ke dalam taman tersebut. Mereka duduk di tempat favorit mereka, yaitu di sudut kiri, di antara pohon teh dan pohon jambu, di batu besar tersebut.
            Sewaktu mereka duduk, dapat terlihat bahwa mereka berdua adalah kembar. Hanya ada satu hal yang membedakan mereka, yaitu salah satu dari mereka mengenakan kacamata dengan frame berwarna hijau. “Gimana, Ta. Udah mendingan?” tanya perempuan yang mengenakan kacamata sambil menghadap ke arah kembarannya.
            “Yaa, lumayan lah, Ra. Gua udah gak terlalu sedih lagi kok,” jawab kembarannya.
            Perempuan yang memakai kacamata bernama Rara, sedangkan yang tidak memakai kacamata bernama Tata. Mereka sudah cukup sering untuk berkunjung ke kafe ini agar mereka dapat minum teh-teh yang berkualitas. Keduanya sama-sama penggemar teh, hanya saja mereka memiliki kegemaran yang berbeda. Rara menyukai Green Tea, sedangkan Tata menyukai Earl Grey Tea.
            Seperti biasa keadaan kafe pada siang hari ini cukup ramai, yang biasanya datang ke kafe ini adalah para pelanggan tetap yang memang sudah mengenal kafe ini sejak pertama kali dibuka. “Ta, kamu inget gak kapan pertama kali kita ke kafe ini?” tanya Rara seraya memandang ke langit yang merupakan lukisan alami dari kafe tersebut.
            Tata tertawa kecil. “Gak mungkin gua gak inget. Lu yang ajak gua ke sini ‘kan? Waktu itu lu lagi patah hati gara-gara Miko jalan sama cewek lain. Lu sampe minum bergelas-gelas teh dan makan sampai 5 piring,” Tata menggelengkan kepala seakan tidak percaya akan apa yang Rara lakukan waktu itu. “Buat orang yang punya badan seukuran lu, ga bakal ada orang yang nyangka kalo lu itu paling suka makan kalo lagi kesel.”
            “Ya mungkin aku memang orang yang suka makan, tapi untungnya waktu itu cuma salah paham. Miko jalan sama perempuan itu karena perempuan itu adik sepupunya. Waktu itu juga dia lagi jalan-jalan sama sepupunya, cuma mereka lagi pisah aja.”
            “Beruntung ya Miko punya cewek kaya lu, Ra. Udah baik, pengertian, ga gampang marah lagi.” Tata juga ikut memandang ke langit. Hari itu begitu cerah, angin berhembus lembut sehingga udara pun menyegarkan hati siapapun yang datang ke kafe tersebut.
            Tidak lama pesanan mereka berdua datang. Rara mengambil cangkir berisi Green Tea, sedangkan Tata mengambil Earl Grey Tea. Mereka berdua menghirup aroma yang dihasilkan oleh teh tersebut dan menyeruputnya sedikit. Setelah meminumnya sedikit, mereka berdua membuang nafas lega karena dengan minuman itu, hati mereka ditenangkan.
            “Earl Grey emang enak aromanya,” kata Tata seraya menghirup aroma yang dihasilkan teh tersebut.
            “Green Tea juga enak rasa pahitnya.” Rara menyeruput lagi teh favoritnya.
            “Coba semua cowo itu kaya si Earl ini ya. Mereka memiliki aroma yang menyegarkan, menenangkan hati, membuat perasaan tenteram, dan selalu ada di dekat kita.”
            “Pasti ada cowo yang kaya gitu kok, Ta. Tenang aja, kamu pasti menemukannya.”
            Tata menaruh cangkir tersebut disampingnya. “Ra, kalo aja gua bisa temuin orang kaya gitu, hidup gua udah ga menyakitkan kaya gini, Ra.”
            Menyakitkan. Kata tersebut juga menusuk hati Rara. Bagaimana tidak, ayah mereka, satu-satunya orang tua yang mereka miliki, telah mengkhianati mereka. Ayah mereka selalu membawa pulang wanita yang berlainan, entah apa tujuannya, tapi yang pasti Rara dan Tata tidak suka akan apa yang terjadi. Rara dan Tata lebih menyukai kalau ayah mereka selalu ada di rumah, makan bersama mereka, berbincang bersama, dan juga melakukan kegiatan ayah dan anak bersama-sama.
            Ibu mereka meninggal sudah sejak 5 tahun yang lalu dikarenakan sebuah penyakit ganas yang menyerangnya. Ibu mereka berpesan kepada mereka agar menuruti ayah mereka dan dalam keadaan apapun, tetap menyayangi ayah mereka. Akan tetapi hal itu amat sulit bagi Rara dan Tata karena ayah mereka sekarang selalu bersama dengan wanita yang lain, jarang di rumah, kalaupun sudah pulang, mereka tidak dapat bertemu muka dengannya karena sang ayah sibuk dengan pekerjaannya.
            Rara kembali menyeruput teh nya, berusaha menghilangkan ingatan akan perkataan ibunya. Setidaknya yang kami lakukan sekarang adalah jalan terbaik. Aku dan Tata akan selalu bersama dan tidak ada yang dapat memisahkan kita, pikir Rara.
            “Ra,” Rara menoleh ke arah Tata, “lu bakal selalu sama gua kan? Apapun yang terjadi?”
            Selalu bersama. Itulah harapan yang dapat Rara pegang. Apapun yang mereka hadapi, mereka pasti dapat menghadapinya bersama. Rara mengangguk. “Iya, Ta. Kita bakal selalu bersama. Apapun yang terjadi.”
            Tata tersenyum. “Iya, kaya sekarang gua lagi marah banget sama Jose gara-gara dia main sama cewek lain, lu ada di sebelah gua dan bantu gua tenangin diri.” Tata berdiri seraya memandang langit. “Lu sama gua beda, tapi sama. Kita saling melengkapi,” kemudian Tata menoleh ke arah Rara, “ya ‘kan, Ra?”
            Melihat hal itu Rara ikut tersenyum lalu mengambil cangkir teh milik Tata dan memberikannya kepada Tata. “Iya, kita saling melengkapi.”
            Tata mengambil cangkir teh tersebut dan bersulang bersama Rara.

0 comments:

Posting Komentar