Api bergemericik,
membakar kayu-kayu yang tertumpuk di hadapan kami, satu-satunya cahaya yang
menyala selain bintang-bintang yang ada di atas kepala kami. Pohon-pohon
melindungi kami, tapi pohon juga menyembunyikan berbagai macam hal yang dapat
membahayakan kami. Hewan liar, tebing, musuh, semuanya ada di balik pohon-pohon
yang ada di sekitar kami. Hanya ada aku dan Tatsu yang sedang duduk di sekitar
kayu yang terbakar itu.
Aku memegang pedang yang ada di
sebelahku, pedang pemberian Tatsu kepadaku. Pedang itu dibaluti dengan sarung
yang begitu indah, berwarna hijau seperti daun yang ada disekitarku, juga
dihiasi dengan garis-garis emas yang terputus-putus. Aku menghunuskan pedangku
itu, pedang yang sangat kujaga dan kuhargai. Terlihat pedang itu tidaklah
bermata dua, tetapi bermata satu dan sisi satunya lagi merupakan sisi yang
tumpul, sisi yang tidak dapat menebas apapun tetapi masih akan terasa sakit
kalau orang lain terkena sisi tersebut.
“Kau begitu menyukai pedang itu,
Norm?” tanya Tatsu padaku.
Aku tersenyum, menyarungkan kembali
pedangku ke dalam sarungnya. “Tentu, ini adalah pemberianmu sejak aku masih
kecil. Satu-satunya benda yang kuanggap sangat berharga,” jawabku.
Tatsu memejamkan mata, seakan
membayangkan masa lalu sewaktu ia memberiku pedang ini.
Aku langsung bertanya, “Kenapa kau
meninggalkan Elizabeth di tempatmu? Tidakkah dia akan membahayakan para
Elvraz?”
Tatsu membuka matanya, melihatku
dalam-dalam. “Ia tidak berguna,” katanya. “Ia hanya akan menghambat perjalanan
kita untuk mencari Thare. Aku tidak butuh manusia yang hanya akan menghambat
dan membuat perjalanan kita berantakan. Aku tidak mau dia hanya menjadi beban
bagi kita.”
Aku mengerti seberapa menyusahkan
Elizabeth, tapi aku tetap tidak mengerti kenapa Elizabeth tidak dipulangkan
saja? Kenapa ia harus berada bersama dengan Elvraz?
“Lagipula,” lanjut Tatsu, “kalau dia
kubiarkan berada di dunia manusia, sama saja dia akan mati, lebih baik dia
tinggal di tempatku, bersama bangsaku ketimbang mati begitu saja.”
“Bukankah tidak apa-apa membiarkan
ia mati. Toh, hanya ada satu nyawa saja yang hilang, tidak banyak.” Aku sebal
dengan pemikiran Tatsu. Manusia itu harusnya mati saja semuanya, tidak ada yang
perlu hidup sama sekali.
“Semua makhluk hidup memiliki hak
untuk hidup, Norm. Walau manusia kelihatannya rendah, bukanlah hak kita untuk
membiarkan mereka mati. Kita tetap harus menolong.”
Aku diam, aku tahu kalau aku tidak
dapat berdebat dengan Tatsu sama sekali. Aku hanya dapat diam dan mencoba
membicarakan hal lain. “Lalu…apa itu Thare?”
“Thare…itu adalah tujuan kita
sekarang,” balas Tatsu.
“Aku tidak mengerti, apakah Thare
itu orang, apakah Thare itu benda, apa hebatnya Thare?”
Tatsu menoleh ke samping, mengambil
satu batang kayu kecil. “Kemarilah, Norm. Akan kutunjukkan apa Thare itu,”
katanya sambil bergeser menyediakan tempat duduk untukku.
“Thare merupakan sebuah legenda yang
memegang rahasia dari semua bangsa. Thare adalah satu-satunya yang dapat
menyelamatkan kita dari Dran. Thare juga lah yang menjadi kunci bagaimana kita
dapat berada di tempat ini sekarang, mengapa kita harus melawan Dran dan
bagaimana cara mengalahkannya.
“Tidak ada yang tahu seperti apa
Thare sebenarnya. Apakah ia makhluk hidup, apakah ia hanya benda yang tidak
dapat kita capai, atau apakah Thare hanyalah bangsa lain? Tidak ada yang tahu.
Hal yang pasti adalah legenda yang ada di semua bangsa hanyalah satu, Thare
merupakan satu-satunya sumber kekuatan dan sumber pengetahuan. Hanya dengan
Thare, kita dapat menjadi lebih kuat, memiliki kekuatan yang tidak ada batas,
mungkin juga hidup abadi.”
Tatsu kemudian menorehkan batang
kayu kecil itu ke tanah, menuliskan sebuah nama. KINDAR. Itulah yang ditulis
oleh Tatsu. Nama yang cukup asing, tidak pernah kudengar sama sekali olehku.
“Kindar, dialah satu-satunya orang
yang mengetahui Thare, satu-satunya yang pernah bertemu Thare, menggunakannya.”
Tatsu melingkari nama tersebut dan melihat ke arahku. “Kindar, dia adalah
leluhurku, pahlawan bagi semua orang, pahlawan bagi Elvraz, pahlawan bagiku.”
Tatsu kembali melihat ke arah tulisan itu, begitu pula denganku. Ia kemudian
membuat garis ke atas dan menuliskan THARE yang dilingkari sehingga THARE dan
KINDAR menyambung melalui garis itu.
“Hanya Kindar yang pernah memegang
kekuasaan penuh kepada Thare. Tapi ia gagal untuk menyelesaikan Dran di saat
terakhirnya. Kindar gagal karena merasa kalau Dran masih akan memiliki
kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Pada akhirnya Kindar mati dibunuh oleh
Dran, dan Dran tetap hidup sampai sekarang.”
“Tunggu, kalau Kindar adalah
leluhurmu, lalu kenapa Dran masih hidup sampai sekarang?”
“Itulah yang kupikirkan sampai
sekarang. Kindar ada sekitar 2000 tahun yang lalu. Para Elvraz memiliki umur sekitar
300 tahun. Sudah hampir 6 generasi yang lewat di dalam bangsa Elvraz, akan
tetapi Dran masih hidup sampai sekarang. Kecuali,” Tatsu menulis DRAN di tanah
lalu mengkotakinya, “Dran sebenarnya dibiarkan untuk disembuhkan dari luka
setelah pertempurannya dengan Kindar dan baru sekarang ia bisa pulih. Mungkin Dran
ditaruh dalam sebuah tabung agar ia tidur hingga luka-lukanya sembuh.
“Karena itulah banyak orang-orang Dran
berkeliaran di dunia manusia, menyamarkan dirinya sama seperti manusia, lalu
mencari daging manusia untuk di makan. Mungkin tidak hanya itu saja, mungkin
mereka berpencar menuju ke berbagai bangsa lain dan berusaha agar tidak berada
di bawah perintah Dran sama sekali.”
“Tapi itu semua hanyalah dugaanmu,”
kataku.
“Ya. Itu benar.” Angguk Tatsu. “Sekarang
kita kembali kepada Thare. Kindar pernah menulis buku tentang dirinya dengan
Thare dan temannya. Ia mengatakan, ‘Thare adalah sumber kekuatan, sumber
pengetahuan. Dari dalam Thare kau akan mendapatkan apapun. Thare adalah teman
yang peduli kepadamu, Thare merupakan tempat di mana kau bisa mencurahkan
hatimu, Thare merupakan tempat di mana kau dapat berdiskusi tanpa habis. Thare
adalah teman yang kau butuhkan dalam perjalanan. Thare, semuanya yang kau
butuhkan, dapat kau genggam di dalam tanganmu.’”
Kami terdiam. Suasana hening
menyelimuti kami. Suara yang kami dengar adalah suara serangga yang berderik
memberi kami musik pada malam hari dan suara gemericik api yang membakar kayu
yang berada di hadapan kami. “Aku sedikit tidak mengerti apa maksud dari
Kindar. Tapi apakah kau tahu di mana Thare?”
Tatsu menggelengkan kepalanya. “Tidak
ada yang tahu di mana Thare berada.”
“Lalu, bagaimana kita dapat mencari
Thare? Aku benar-benar bingung, aku tidak mengerti kenapa kita harus mencari
sesuatu yang belum tentu ada, bukankah lebih baik kita langsung menuju ke Dran
dan menghabisi mereka?” tanyaku kebingungan kepada Tatsu.
Tatsu kemudian merangkulku. “Di
antara semua bangsa, tidak ada yang dapat mengalahkan Dran kecuali dia yang
memegang kekuatan dari Thare. Walaupun semua bangsa bersatu berusaha untuk
mengalahkan Dran, Dran tetap lebih kuat daripada siapapun. Satu-satunya harapan
kita adalah Thare. Baik ia adalah legenda yang sulit untuk dicapai, itu tidak
penting. Hal yang paling penting adalah, kita memiliki harapan untuk
menemukannya.”
“Bagaimana caranya? Petunjuk satu-satunya
hanyalah buku yang dibuat oleh Kindar, satu-satunya orang yang pernah memegang
Thare. Kita tidak mungkin mengembara ke sana-kemari hanya untuk mencari sesuatu
yang tidak jelas.”
“Setiap bangsa memiliki ceritanya
sendiri mengenai Thare, legenda mereka sendiri. Kindar adalah legenda yang
Elvraz miliki, tapi kita tidak tahu apa yang dimiliki oleh bangsa lain yang
juga memegang kunci kepada Elvraz.” Tatsu terdiam sebentar, mengusap kepalaku. “Karena
itu sekarang kita pergi menuju ke tempat temanku yang dari bangsa lain, siapa
tahu ia dapat membantu.”
“Dari bangsa apa?”
“Bangsa yang juga berhubungan dengan
dirimu Norm, yaitu Morlock.”
0 comments:
Posting Komentar