Minggu, 24 November 2013

Thare: Bab 5-Thare

Api bergemericik, membakar kayu-kayu yang tertumpuk di hadapan kami, satu-satunya cahaya yang menyala selain bintang-bintang yang ada di atas kepala kami. Pohon-pohon melindungi kami, tapi pohon juga menyembunyikan berbagai macam hal yang dapat membahayakan kami. Hewan liar, tebing, musuh, semuanya ada di balik pohon-pohon yang ada di sekitar kami. Hanya ada aku dan Tatsu yang sedang duduk di sekitar kayu yang terbakar itu.
            Aku memegang pedang yang ada di sebelahku, pedang pemberian Tatsu kepadaku. Pedang itu dibaluti dengan sarung yang begitu indah, berwarna hijau seperti daun yang ada disekitarku, juga dihiasi dengan garis-garis emas yang terputus-putus. Aku menghunuskan pedangku itu, pedang yang sangat kujaga dan kuhargai. Terlihat pedang itu tidaklah bermata dua, tetapi bermata satu dan sisi satunya lagi merupakan sisi yang tumpul, sisi yang tidak dapat menebas apapun tetapi masih akan terasa sakit kalau orang lain terkena sisi tersebut.
            “Kau begitu menyukai pedang itu, Norm?” tanya Tatsu padaku.

            Aku tersenyum, menyarungkan kembali pedangku ke dalam sarungnya. “Tentu, ini adalah pemberianmu sejak aku masih kecil. Satu-satunya benda yang kuanggap sangat berharga,” jawabku.
            Tatsu memejamkan mata, seakan membayangkan masa lalu sewaktu ia memberiku pedang ini.
            Aku langsung bertanya, “Kenapa kau meninggalkan Elizabeth di tempatmu? Tidakkah dia akan membahayakan para Elvraz?”
            Tatsu membuka matanya, melihatku dalam-dalam. “Ia tidak berguna,” katanya. “Ia hanya akan menghambat perjalanan kita untuk mencari Thare. Aku tidak butuh manusia yang hanya akan menghambat dan membuat perjalanan kita berantakan. Aku tidak mau dia hanya menjadi beban bagi kita.”
            Aku mengerti seberapa menyusahkan Elizabeth, tapi aku tetap tidak mengerti kenapa Elizabeth tidak dipulangkan saja? Kenapa ia harus berada bersama dengan Elvraz?
            “Lagipula,” lanjut Tatsu, “kalau dia kubiarkan berada di dunia manusia, sama saja dia akan mati, lebih baik dia tinggal di tempatku, bersama bangsaku ketimbang mati begitu saja.”
            “Bukankah tidak apa-apa membiarkan ia mati. Toh, hanya ada satu nyawa saja yang hilang, tidak banyak.” Aku sebal dengan pemikiran Tatsu. Manusia itu harusnya mati saja semuanya, tidak ada yang perlu hidup sama sekali.
            “Semua makhluk hidup memiliki hak untuk hidup, Norm. Walau manusia kelihatannya rendah, bukanlah hak kita untuk membiarkan mereka mati. Kita tetap harus menolong.”
            Aku diam, aku tahu kalau aku tidak dapat berdebat dengan Tatsu sama sekali. Aku hanya dapat diam dan mencoba membicarakan hal lain. “Lalu…apa itu Thare?”
            “Thare…itu adalah tujuan kita sekarang,” balas Tatsu.
            “Aku tidak mengerti, apakah Thare itu orang, apakah Thare itu benda, apa hebatnya Thare?”
            Tatsu menoleh ke samping, mengambil satu batang kayu kecil. “Kemarilah, Norm. Akan kutunjukkan apa Thare itu,” katanya sambil bergeser menyediakan tempat duduk untukku.
            “Thare merupakan sebuah legenda yang memegang rahasia dari semua bangsa. Thare adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita dari Dran. Thare juga lah yang menjadi kunci bagaimana kita dapat berada di tempat ini sekarang, mengapa kita harus melawan Dran dan bagaimana cara mengalahkannya.
            “Tidak ada yang tahu seperti apa Thare sebenarnya. Apakah ia makhluk hidup, apakah ia hanya benda yang tidak dapat kita capai, atau apakah Thare hanyalah bangsa lain? Tidak ada yang tahu. Hal yang pasti adalah legenda yang ada di semua bangsa hanyalah satu, Thare merupakan satu-satunya sumber kekuatan dan sumber pengetahuan. Hanya dengan Thare, kita dapat menjadi lebih kuat, memiliki kekuatan yang tidak ada batas, mungkin juga hidup abadi.”
            Tatsu kemudian menorehkan batang kayu kecil itu ke tanah, menuliskan sebuah nama. KINDAR. Itulah yang ditulis oleh Tatsu. Nama yang cukup asing, tidak pernah kudengar sama sekali olehku.
            “Kindar, dialah satu-satunya orang yang mengetahui Thare, satu-satunya yang pernah bertemu Thare, menggunakannya.” Tatsu melingkari nama tersebut dan melihat ke arahku. “Kindar, dia adalah leluhurku, pahlawan bagi semua orang, pahlawan bagi Elvraz, pahlawan bagiku.” Tatsu kembali melihat ke arah tulisan itu, begitu pula denganku. Ia kemudian membuat garis ke atas dan menuliskan THARE yang dilingkari sehingga THARE dan KINDAR menyambung melalui garis itu.
            “Hanya Kindar yang pernah memegang kekuasaan penuh kepada Thare. Tapi ia gagal untuk menyelesaikan Dran di saat terakhirnya. Kindar gagal karena merasa kalau Dran masih akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Pada akhirnya Kindar mati dibunuh oleh Dran, dan Dran tetap hidup sampai sekarang.”
            “Tunggu, kalau Kindar adalah leluhurmu, lalu kenapa Dran masih hidup sampai sekarang?”
            “Itulah yang kupikirkan sampai sekarang. Kindar ada sekitar 2000 tahun yang lalu. Para Elvraz memiliki umur sekitar 300 tahun. Sudah hampir 6 generasi yang lewat di dalam bangsa Elvraz, akan tetapi Dran masih hidup sampai sekarang. Kecuali,” Tatsu menulis DRAN di tanah lalu mengkotakinya, “Dran sebenarnya dibiarkan untuk disembuhkan dari luka setelah pertempurannya dengan Kindar dan baru sekarang ia bisa pulih. Mungkin Dran ditaruh dalam sebuah tabung agar ia tidur hingga luka-lukanya sembuh.
            “Karena itulah banyak orang-orang Dran berkeliaran di dunia manusia, menyamarkan dirinya sama seperti manusia, lalu mencari daging manusia untuk di makan. Mungkin tidak hanya itu saja, mungkin mereka berpencar menuju ke berbagai bangsa lain dan berusaha agar tidak berada di bawah perintah Dran sama sekali.”
            “Tapi itu semua hanyalah dugaanmu,” kataku.
            “Ya. Itu benar.” Angguk Tatsu. “Sekarang kita kembali kepada Thare. Kindar pernah menulis buku tentang dirinya dengan Thare dan temannya. Ia mengatakan, ‘Thare adalah sumber kekuatan, sumber pengetahuan. Dari dalam Thare kau akan mendapatkan apapun. Thare adalah teman yang peduli kepadamu, Thare merupakan tempat di mana kau bisa mencurahkan hatimu, Thare merupakan tempat di mana kau dapat berdiskusi tanpa habis. Thare adalah teman yang kau butuhkan dalam perjalanan. Thare, semuanya yang kau butuhkan, dapat kau genggam di dalam tanganmu.’”
            Kami terdiam. Suasana hening menyelimuti kami. Suara yang kami dengar adalah suara serangga yang berderik memberi kami musik pada malam hari dan suara gemericik api yang membakar kayu yang berada di hadapan kami. “Aku sedikit tidak mengerti apa maksud dari Kindar. Tapi apakah kau tahu di mana Thare?”
            Tatsu menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang tahu di mana Thare berada.”
            “Lalu, bagaimana kita dapat mencari Thare? Aku benar-benar bingung, aku tidak mengerti kenapa kita harus mencari sesuatu yang belum tentu ada, bukankah lebih baik kita langsung menuju ke Dran dan menghabisi mereka?” tanyaku kebingungan kepada Tatsu.
            Tatsu kemudian merangkulku. “Di antara semua bangsa, tidak ada yang dapat mengalahkan Dran kecuali dia yang memegang kekuatan dari Thare. Walaupun semua bangsa bersatu berusaha untuk mengalahkan Dran, Dran tetap lebih kuat daripada siapapun. Satu-satunya harapan kita adalah Thare. Baik ia adalah legenda yang sulit untuk dicapai, itu tidak penting. Hal yang paling penting adalah, kita memiliki harapan untuk menemukannya.”
            “Bagaimana caranya? Petunjuk satu-satunya hanyalah buku yang dibuat oleh Kindar, satu-satunya orang yang pernah memegang Thare. Kita tidak mungkin mengembara ke sana-kemari hanya untuk mencari sesuatu yang tidak jelas.”
            “Setiap bangsa memiliki ceritanya sendiri mengenai Thare, legenda mereka sendiri. Kindar adalah legenda yang Elvraz miliki, tapi kita tidak tahu apa yang dimiliki oleh bangsa lain yang juga memegang kunci kepada Elvraz.” Tatsu terdiam sebentar, mengusap kepalaku. “Karena itu sekarang kita pergi menuju ke tempat temanku yang dari bangsa lain, siapa tahu ia dapat membantu.”
            “Dari bangsa apa?”

            “Bangsa yang juga berhubungan dengan dirimu Norm, yaitu Morlock.”

0 comments:

Posting Komentar