“Kenapa aku harus satu
kamar dengannya?!!” seruku kepada Tatsu yang hendak membuka pintu kamarnya.
Ia hanya melihat kearahku dan
memandangku dengan rasa tidak senang. Tapi akulah yang lebih tidak senang. Aku
harus sekamar dengan manusia perempuan menjijikkan itu. Aku sama sekali tidak
sudi. “Kau bisa pulang kalau kau tidak suka,” jawab Tatsu.
“Justru dialah yang harus pulang!
Aku tidak tahan kalau aku terus bersama dengannya!!”
Tatsu tidak menjawab apapun. Ia
hanya masuk ke dalam kamarnya.
Aku yang semakin kesal, ingin
rasanya memukul sesuatu, atau bahkan membunuh manusia itu. Aku tidak senang,
sama sekali tidak suka dengan manusia. Mereka menjijikkan, memuakkan bagiku.
Dengan langkah yang kuhentak-hentakkan, aku berjalan menuju kamarku—juga kamar
manusia menjijikkan itu—dengan perasaan penuh dendam dan amarah. Kubuka pintu
kamar, dan aku melihat perempuan itu, yang mengatakan dirinya adalah Elizabeth,
sedang duduk di ranjang yang paling dekat dengan pintu kamar. Keberadaannya
seolah-olah sedang menungguku. Jelas, aku tidak suka, kalau dia tidak
dilindungi oleh Tatsu, aku sudah menghajarnya dari hari ia datang ke rumah
Tatsu. Kekesalanku tidak dapat kubendung sama sekali. Aku butuh pelampiasan.
Tapi karena aku tidak bisa menghajarnya, aku langsung menuju ke ranjang paling
dalam—yang adalah ranjangku, ranjang ke 15 dari ruang tidur itu, dan aku
langsung tidur berusaha agar tidak perlu berurusan dengannya. Sayangnya, aku
tidak dapat tidur pada saat itu juga.
Tidak lama aku berusaha untuk tidur, manusia menyebalkan itu datang ke arahku. Aku dapat merasakan langkah kakinya dan merasakan keberadaannya. Selangkah demi selangkah ia maju ke arahku, mendekatiku. Begitu jarak kami sekitar 1 ranjang, aku langsung berkata, “Cukup sampai di situ. Aku tidak mau kau terlalu dekat denganku.”
Kupikir ia akan menjauhiku, tapi
justru ia duduk di ranjang sebelahku. Aku gelisah dengan keberadaannya, aku
tidak nyaman sama sekali. Aku kemudian bangung melihat ke arahnya, dan
mengatakan, “Kenapa kau harus berada di dekatku? Aku tidak senang kalau ada
seekor manusia di sampingku!”
Tidak seperti yang kusangka, ia
malah membuka mulutnya dan berkata dengan terbata-bata, “Apa salahnya aku ada
di dekatmu? Aku hanya ingin mengenalmu lebih lanjut.” Dapat kurasakan ketakutan
yang sebenarnya ada di dalam dirinya. Tapi ini membuatku bingung, kalau kau
takut, kenapa kau harus melawannya?
“Untuk apa kau mengenalku lebih
lanjut?! Aku benci manusia seperti kalian! Titik! Jangan dekati aku lagi!” Aku
sampai berdiri agar dia mengerti apa yang kukatakan dan kubenci. Tapi ia sama
sekali tidak bergerak, bahkan menyingkir pun tidak. Walaupun begitu aku dapat
merasakan getaran badannya. Ia gemetar. Ketakutan, merasa terancam, seperti
akan dibunuh. Kulihat, keringat dinginnya mulai keluar. Ia takut padaku. Kucoba
berjalan mendekatinya agar ia pergi dariku, sayangnya ia tidak pergi. Tidak
seperti anjing atau kucing yang pasti langsung lari kalau merasakan bahaya,
manusia ini justru seakan mencari bahaya.
“Aku…hanya ingin tahu,” balasnya pelan,
terbata-bata, tapi aku menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dari dirinya, dari
seekor manusia ini. “Aku ingin tahu…kenapa kau membenci manusia.”
Jujur, aku kaget mendengar
perkataannya. Itu bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh orang yang sudah ketakutan.
Entah itu adalah keberanian atau kebodohan, atau nekat. Tapi dari caranya
berbicara, aku tahu ia adalah orang yang berani, ia mengenal rasa takut, tapi
tahu kapan harus terus maju agar mendapatkan yang ia inginkan. Berbeda dengan
orang nekat yang berusaha tidak memperlihatkan rasa takut dengan menantang
diri, orang ini justru malah memperlihatkan rasa takut dan berusaha menangani
rasa takut itu.
Aku kemudian duduk, melihat ke
arahnya dengan rasa murka, benci terhadap manusia-manusia yang telah menindasku,
membuatku menjadi merasa tidak nyaman, membuatku memiliki ingatan-ingatan yang
tidak mengenakkan. Akan tetapi ia berbeda dengan manusia yang sebelumnya. “Kau
mau tahu?”
Ia mengangguk. “I—Iya.” Dengan
berhati-hati ia berbicara kepadaku. Ini membuatku penasaran juga, tapi aku
tidak suka dengan pikiran yang penasaran.
“Kau tahu, hal yang paling kubenci
dari manusia adalah rasa penasaran.”
Ia terkejut mendengarnya. “Kenapa
begitu?”
Manusia ini masih dengan hati-hati
bertanya kepadaku. Sepertinya berusaha tidak merusak perasaanku. “Karena rasa
penasaran itu justru membuatku menderita.”
***
Sejak lahir aku sudah
dibuang. Tanpa mengetahui siapa ayahku, ibuku, atau saudaraku. Aku lahir di
tengah-tengah kota, di mana manusia berlalu lalang, tanpa memikirkanku sama
sekali. Sempat ada yang mengurusku sewaktu aku masih bayi. Ia memberiku makan,
apapun yang bisa kumakan. Ia hanyalah gelandangan yang mengira bahwa aku dan
dia memiliki nasib yang sama. Dibuang, tidak dapat dikasihani, bahkan tidak
dihiraukan sama sekali. Memang aku mendapatkan kasih sayang pada awalnya. Akan
tetapi aku tidak akan lupa apa yang terjadi sewaktu aku baru belajar berbicara.
Gelandangan itu ditendang, dipukul, kemudian bajunya dibuka. Di tengah
dinginnya malam, aku melihat apa yang dilakukan keempat orang itu kepada
pengasuhku, sang gelandangan itu. Mereka menurunkan celana mereka, mengeluarkan
memperlihatkan sesuatu yang ada di bawah celana mereka. Inilah manusia sebut
sebagai penis. Lalu mereka satu per satu, mulai memasukkan penis mereka ke
dalam tubuh pengasuhku. Entah itu dari bawah, atau ke dalam mulut, atau ke
lubang manapun yang mereka sukai. Mereka sama sekali tidak memberi ampun. Aku
yang masih kecil tidak tahu apa yang sedang terjadi jadi aku hanya melihatnya
saja dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika pengasuhku sedang ditindas,
digunakan sesuka hati—belakangan aku tahu kalau pengasuhku diperkosa oleh
mereka—tidak diberi ampun sama sekali, tidak ada belas kasihan dari keempat
orang itu. Mereka menganggap pengasuhku sebagai hewan yang tidak patut
dikasihani, hanyalah barang yang dapat mereka gunakan lalu buang begitu saja,
dan tidak akan ada yang mencarinya lagi.
Mereka melakukan semuanya itu hingga
pengasuhku meninggal, terbunuh, oleh karena tidak tahannya dia dengan dunia yang
kejam ini. Aku pun sebenarnya tidak tahan, tapi pada saat itu aku belum
mengerti apa-apa. Hanya satu hal yang kumengerti begitu keempat orang itu pergi
dengan perasaan takut. Tidak ada lagi yang dapat mengasuhku, mengajarkanku
caranya berbicara yang benar. Tidak ada lagi yang menjadi panutanku. Manusia,
menganggap manusia lain yang lebih rendah darinya hanyalah sampah. Manusia
hanya berani melawan mereka yang lebih lemah darinya. Ini membuatku tidak mau
mendekati manusia, tetapi aku membutuhkan makanan dari mereka. Akhirnya aku
mulai meminta-minta di pinggiran kota, meminta untuk mendapatkan kasihan dari
beberapa orang.
Akan tetapi, mereka yang melihatku
merasa jijik, merasa ingin muntah. Karena mereka tahu, aku tidaklah sama
seperti mereka. Tetapi aku tidak tahu sama sekali seperti apa rupaku, menurutku
ini biasa saja. Akhirnya setelah sekian lama, aku melihat mukaku di kubangan
air, mukaku dipenuhi dengan rambut, mataku pun berbeda dari yang lain kalau
berada di dalam kegelapan, begitu keadaan menjadi gelap, mataku menjadi hitam
dan memantulkan cahaya apapun. Mungkin karena itu gelandangan yang mengurusku
tidak pernah menunjukkanku pada siapapun. Kejelekanku, keburukanku pada saat
itu membuatku menjadi tidak berani berada dekat-dekat dengan manusia manapun.
Aku, yang sebelumnya tinggal di area perkumuhan, lari dari tempat itu dan mulai
hidup sendiri di jalanan kota, tanpa tempat tinggal. Barang yang kubawa
hanyalah sebuah kardus untuk menutup diriku agar tidak kehujanan. Karena aku
belum sempat berbicara sewaktu pengasuhku meninggal, aku tidak bisa berbicara
dengan bahasa manusia, yang bisa kulakukan adalah hanya menunggu kalau ada
orang yang memberiku makan. Untunglah aku dapat mendapatkan air setiap hari
dengan adanya danau di kota itu. Kalau tidak, aku sudah mati dari dulu. Tidak
ada yang mengasihaniku, tidak ada yang mau memeliharaku. Mereka menganggap aku
monster, aku tahu dari tatapan mereka sewaktu melihatku. Mereka membenciku,
memberiku makan bukan karena rasa kasihan tetapi karena rasa jijik. Terkadang
aku mencuri makanan agar tidak kelaparan, memungut makanan dari tempat sampah,
terutama tempat sampah yang ada di dekat restoran apapun. Memakan makanan itu
merupakan hal yang amat istimewa bagiku, tetapi itu tidak dapat kulakukan
setiap hari. Tempat sampah yang berada di belakang restoran merupakan area
perang, di mana semua gelandangan, bahkan hewan liar, mati-matian bertarung
hanya untuk makan dan mendapatkan yang paling banyak dari semuanya. Tidak ada
kata kasiha, tidak ada rasa peduli, semuanya hanya ingin menang sendiri.
Setelah beberapa lama aku hidup, aku
merasa tidak tahan dengan semuanya ini. Ingin rasanya aku mati saja. Ingin
rasanya aku dimakan oleh orang-orang. Sudah menjadi makanan sehari-hari mereka
tidak memberiku apa-apa, menindasku sampai aku hampir mati. Ya, aku yang masih
anak-anak ditindas oleh manusia yang tidak memiliki perasaan apapun. Manusia
yang begitu kubenci. Aku diinjak, dipukuli, di lempari batu, bahkan ada yang
memiliki niat menusukku, tapi untungnya aku dapat menghindarinya dan hanya
lenganku yang terluka. Tidak ada yang peduli padaku, semua manusia sama saja.
Semuanya jahanam, tidak berpikir mengenai diriku, mereka hanya akan menindas
yang lemah, tetapi takut kepada yang kuat. Manusia adalah makhluk lemah yang
hanya bisa menindas, menindas, dan menindas. Terkadang ada yang sewaktu
menindasku merasa penasaran dengan apa yang kumiliki. Sering kali aku
dilecehkan secara fisik, dibuat menderita padahal aku tidak melakukan apa-apa.
Sempat juga aku hampir diperkosa, tetapi karena aku mengingat apa yang terjadi
pada pengasuhku sebelumnya, aku dapat bertahan diri. Semua ini membuatku
menjadi muak akan dunia. Mereka hanya penasaran akan apa yang aku miliki. Aku
tidak memiliki apa-apa! Aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak dapat hidup
kalau mereka tidak memberiku makan, tidak ada yang mengasihaniku! Semuanya
membenciku seakan-akan aku adalah binatang buruk yang tidak pantas untuk hidup
sama sekali!! Mereka semua kejam!!! Tidak ada yang mengerti diriku sama
sekali!!!!
Suatu hari, hujan turun di hari yang
begitu panas. Hujan turun dengan begitu deras, begitu kencang, membuatku
berpikir, ini adalah kesempatan yang tepat untuk mati. Tidak akan ada yang
melihatku, tidak akan ada yang peduli denganku. Aku yang kedinginan, hampir
telanjang karena tidak lagi memiliki baju yang tersisa, lapar, benar-benar
kondisi yang cocok untukku agar aku mati, kemudian di buang ke dalam sampah.
Aku sudah putus asa, tidak ada yang menolongku, tidak ada yang melindungiku.
Hujan semakin deras, semua orang hanya lewat begitu saja, bahkan ada yang
sengaja melewati kubangan air di depanku sehingga air di kubangan itu terciprat
ke arahku. Sungguh tepat sekali, aku semakin kedinginan, kemudian berusaha
untuk tidur, tidur untuk selamanya.
Selagi aku berusaha untuk tidur,
tiba-tiba aku merasa hujan berhenti, tapi udara tetap dingin. Aku merasa
seakan-akan ada yang menutupiku, itu berarti ada orang yang berhenti di
depanku, dan itu berarti aku bisa saja dianiaya. Aku menjadi takut, gemetar,
tidak dapat menahan diri karena tidak ada tenaga lagi. Tiba-tiba orang itu
memberiku sebuah roti, roti yang masih hangat, dengan aroma yang menyegarkan.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melahap roti itu, melahapnya dengan lebih
banyak lagi seakan-akan itu adalah makanan terakhirku. Ketidaksadaranku untuk
bertahan hidup membuatku makan. Begitu roti itu habis, ia memberiku roti lagi,
lalu kumakan lagi dengan lahap. Setelah 3 roti yang diberikan oleh orang itu,
aku baru sadar dan berpikir apa yang akan dilakukan oleh orang itu.
Seketika, hujan berhenti, awan
terbuka, dan menyinari dengan hangat. Aku melihat siluet orang itu, aku tidak
dapat melihat seperti apa wajah orang itu, ia kemudian mengulurkan tangannya.
Aku langsung menggigit tangan itu karena aku takut apa yang akan dilakukannya
padaku. Tapi orang itu tidak menggubrisnya, ia hanya diam walaupun aku
menggigitnya. Ia tidak memukul, menendang, atau bahkan melemparku begitu saja.
Ia hanya diam. Diam…tidak melakukan apapun yang membuatku takut. Akhirnya, kali
ini, aku mulai percaya pada orang lain, mulai berusaha karena ia mengulurkan
tangannya tanpa menindasku. Aku dapat merasakan ada yang beda dari orang ini,
ia satu-satunya penyelamatku, ia berbeda dari yang lain, dan sewaktu aku
menggigitnya, aku merasa ia memang berbeda. Aku merasa kalau dia bukan manusia,
tapi sama sepertiku, berbeda dari manusia yang lain.
***
“Dia adalah Tatsu, ia
memungutku sewaktu aku masih kecil. Ia membuatku menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Bagiku, Tatsu adalah ayahku, satu-satunya orang yang mau
mengasuhku,” begitu kataku kepada Elizabeth.
0 comments:
Posting Komentar