BAB 1—Rara Tata
Kedua remaja perempuan itu sedang
berada di dalam sebuah café, mereka
masih memakai kemeja putih dengan rok abu-abu yang merupakan ciri khas seragam
SMA. Mereka duduk di sudut ruangan, di meja yang khusus untuk berdua saja,
seakan berusaha untuk tidak menarik perhatian dari pengunjung lain. Mereka
duduk berhadap-hadapan, remaja perempuan yang di sebelah kiri sedang menunduk,
rambutnya yang cukup panjang menutupi mukanya, sedangkan remaja perempuan yang
duduk di sebelah kanan duduk tegap, memperlihatkan muka yang cukup sedih, dan
tangan kanannya sedang memegang bahu kiri dari remaja yang di sebelah kiri. Di
meja terdapat bertumpuk gelas plastik kosong yang dibaringkan di nampan dan dua
gelas plastik yang masih berisi minuman berdiri di depan masing-masing remaja
tersebut.
Remaja yang ada di sebelah kiri mengangkat mukanya dan menunjukkan mukanya, terlihat mereka memiliki wajah yang sama dengan warna mata yang sama, mulut kecil yang sama, hidung yang terlihat sedikit mancung yang sama, besar mata yang sama, bahkan potongan rambut yang sama. “Semua laki-laki itu sama aja!” seru remaja yang di sebelah kiri.
Remaja yang ada di sebelah kanan
menoleh ke sekeliling untuk melihat apakah ada yang mendengar pembicaraan
mereka lalu kembali melihat ke kembarannya dan mengatakan, “Ta, aku tahu
perasaan kamu, tapi jangan terlalu keras.”
“Gua ga bisa tahan lagi, Ra! Gua
kesel, gua benci, kenapa semua laki kaya gitu sih! Ga ada yang bener semua!!
Tiap kali ada perempuan lain aja yang cakep, langsung aja mereka ga peduliin
pacar mereka! Mereka langsung putus gara-gara ada cewek yang lebih cakep! GUA
BENCI!!!!” Remaja perempuan yang bernama Tata itu berteriak begitu kencang
sambil menangis, sehingga suaranya memenuhi ruangan café dan menutupi lagu yang sedang dimainkan. Seketika semua
pelanggan melihat ke arah mereka berdua. Rara yang menjadi kembarannya merasa
salah tingkah dan kebingungan akibat perbuatan Tata.
“Ada yang bisa dibantu, Mba?” tanya
pelayan yang datang mendekati mereka berusaha agar mereka bisa tenang sedikit.
“Ah, maaf. Kami sebentar lagi akan
segera selesai, maaf mengganggu.” Rara langsung berkeringat dingin sewaktu
ditanya oleh pelayan, ia menjadi tidak enak kepada pelanggan lain, sedangkan
Tata tidak peduli akan keadaan di sekitarnya, baginya sekarang adalah waktunya
sendiri untuk bisa bebas berekspresi, tanpa itu, rasanya Tata akan meledak
seperti gunung berapi dan bahkan dapat menyerang orang lain. “Ta, tolong jangan
terlalu kencang bicaranya, takut kedengaran orang lain.” Rara berusaha agar
Tata mengecilkan volume suaranya.
“Lu sih enak, Ra. Lu punya cowok
yang baik, perhatian, manis. Ga kayak Alex atau Roni yang bisanya Cuma gombal
doang. Begitu ketemu cewek yang lebih cakep, langsung mereka klepek-klepek dan
malah mutusin gua.” Terdengar nada penyesalan keluar dari mulut Tata karena
bisa-bisanya sudah berpacaran dengan laki-laki yang mata keranjang seperti
mereka.
“Ta, Miko emang bisa dibilang baik,
tapi bukan berarti kami enak juga, Ta. Kami masih suka bertengkar kok,” ucap
Rara berusaha agar Tata tidak terlalu sedih oleh karena kedua mantannya.
“Ah tapi semua cowok sama aja!”
serunya seraya memalingkan muka dari Rara.
“Ga semuanya kok, Ta.” Rara langsung
menyentuh tangan kiri Tata dengan tangan kanannya agar Tata setidaknya tahu
bahwa kembarannya itu mengerti perasaannya.
Tata kemudian menatap ke arah Rara.
“Semuanya sama aja, Ra,” ucap Tata. “Ga Alex, ga Roni, Ga bokap, Ra!! Gua udah
benci sama bokap, Ra! Benci gua benci! Tiap hari selalu bawa pulang wanita yang
kita ga tau, ga pernah ketemu, dan tu cewek selalu beda-beda! Mentang-mentang
mama ga ada lagi, bokap jadi kaya gini!” Tata langsung meminum minumannya
banyak-banyak, berusaha melupakan apa yang sudah terjadi.
Rara tetap terus mengusap bahu kiri
Tata dan mukanya. “Aku juga tahu, Ta. Aku merasakan yang kamu rasakan, aku
lihat yang kamu lihat. Ta, aku selalu ada di sebelah kamu, aku ga akan pernah
lepas dari kamu, Ta.” Sebenarnya Rara juga ingin sekali berteriak, menangis,
bahkan ingin rasanya ia membanting semua barang yang ada di hapadannya. Hanya
saja Rara adalah kakak Tata, ia harus menjaga penampilannya yang tenang, tegar,
layaknya seorang kakak. Rara selalu ada di samping Tata, selalu bersama Tata,
Rara juga lah yang selalu menghibur Tata di kala sedih. “Ta,” lanjut Rara,
“pulang yuk. Aku tahu kamu ga tahan sama semua ini, tapi aku selalu ada di
samping kamu, kamu pasti akan aku jaga. Kita selalu bersama, Ta. Kita mau ga
mau harus hadapi semua yang ada di depan kita.”
Kita
selalu bersama, mungkin adalah kata-kata yang dibutuhkan oleh Tata. Hatinya
menjadi lebih tentram sewaktu Rara menyebutkan kalimat tersebut. Mereka selalu
bersama sejak lahir, tidak dapat terpisahkan, mereka adalah satu, mereka
memiliki kontak batin yang begitu kuat sehingga apapun yang menghalangi mereka,
mereka dapat mengatasinya bersama.
Kemudian mereka berdua keluar dari
café tersebut dan pulang ke rumah mereka sewaktu langit sudah mulai gelap.
Rumah mereka besar, (memiliki empat pilar besar yang terpampang di pintu utama),
di dalam rumah mereka, hampir semuanya serba putih, dinding berwarna putih,
lantai berwarna putih mengkilat, benar-benar rumah yang megah dan mewah, hanya
terdapat 3 pembantu yang ada di sana. Lalu di ruang tamu terpampang foto
keluarga mereka, di tengah terdapat Rara dan Tata yang sedang duduk sewaktu
kelas 1 SMP, lalu di belakang mereka terdapat ayah dan ibu mereka. Ayah mereka
tampak gagah, berbadan tegap, memakai kacamata dan setelan jas yang begitu
rapi, sangat terpancarkan bahwa ayah mereka memiliki kuasa yang begitu besar.
Ibu mereka begitu cantik, wajahnya sama seperti wajah Tata dan Rara, ia
mengenakan pakaian putih yang begitu bersih dan rok yang juga sama putihnya,
sama sekali tidak bernoda seperti rumah yang mereka tinggali.
Tata dan Rara langsung makan malam
tanpa menunggu ayah mereka pulang, mereka berbincang mengenai pelajaran di
sekolah, PR mereka, dan ulangan yang akan mereka hadapi. Setelah mereka makan,
mereka masuk ke dalam kamar dan langsung mengerjakan PR mereka. Tata sebenarnya
tidak ingin mengerjakan PR miliknya karena masih akan dikumpulkan minggu depan,
akan tetapi Rara mendesaknya terus untuk membuat PR bersama-sama sehingga
akhirnya Tata mau tidak mau harus ikut mengerjakan PR dan juga belajar untuk
hari esok bersama-sama. Setelah mengerjakan PR dan belajar, mereka bermain
sebentar dengan komputer mereka, membuka Facebook,
Twitter, dan juga e-mail mereka.
Mereka saling mendengarkan lagu yang sama, mereka sama-sama menyenangi lagu
klasik, mereka benar-benar tidak dapat dipisahkan.
Begitu mereka melihat bahwa sudah
pukul 01.00, mereka bersama-sama menuju kamar mandi untuk sikat gigi bersama
dan kemudian tidur di ranjang yang sama. “Ra, lu janji ya lu ga akan ninggalin
gua,” kata Tata sewaktu berhadapan dengan Rara di tempat tidur.
“Aku janji, Ta. Aku ga akan
tinggalin kamu, aku akan selalu ada di samping kamu,” balas Rara. Kemudian
mereka berdua sama-sama memejamkan mata untuk tidur dan akhirnya mereka
tertidur lelap, bersedia untuk menyongsong hari esok.
Di dalam sebuah kamar tidur,
terlihat ada seorang laki-laki paruh baya dengan seorang perempuan sedang duduk
di depan cermin dengan meja penuh peralatan kosmetik. Laki-laki tersebut masuk
ke dalam kamar mandi di kamar tanpa menutup pintunya, bersender di dinding, dan
menyalakan sebatang rokok. Ia menghisap rokok tersebut dan menghembuskan nafasnya
dengan perasaan yang berat.
“Jadi bagaimana, Ton? Apakah kamu
sudah bisa memutuskannya? Kami sudah beri kamu waktu satu bulan untuk kamu
pikirkan,” kata perempuan di depan meja cermin itu seraya membetulkan rambut.
Laki-laki tersebut tetap diam, tidak
bisa berkata-kata. Ia hanya menghisap rokoknya dan menghembuskan lagi nafasnya
dengan perasaan berat.
“Ton, kami sudah tidak dapat
menunggu lebih lama lagi. Harus ada keputusan dari kamu sendiri. Sudah berkali-kali
rekanku datang ke tempat ini untuk meyakinkan kamu, ini adalah prospek besar!
Kalau proyek ini benar-benar berhasil, kamu akan mendapatkan royalti yang
begitu besar, Ton.” Perempuan itu kemudian mengeluarkan secarik kertas dan
menuliskan sejumlah angka, lalu berdiri dan berjalan ke arah laki-laki
tersebut. “Toni, kalau kamu belum yakin, ini,” ia memberikan kertas tersebut
kepada laki-laki itu, “ini adalah DP dari perjanjian kita. Kalau malam ini kau
setuju, angka ini akan langsung aku tuliskan di lembar cek milikku, kalau kamu
belum bisa setuju, itu berarti DP ini akan menghilang dan kamu tidak akan
memiliki kesempatan untuk mendapat DP ini lagi. Kamu butuh uang kan, Ton?”
Butuh
uang, pikir Toni, memang aku
membutuhkan uang. Tapi apa jadinya kalau sampai mengorbankan kedua anak yang
kumiliki sekarang. Walaupun begitu, aku merasa kalau inilah satu-satunya jalan.
Toh hanya tiga bulan, tidak lebih. Toni langsung menghisap rokoknya lagi.
“Begitu aku menarik surat ini, berarti tidak
ada lagi kesempatan bagimu untuk mendapatkannya, mengerti?”
Toni langsung berjalan, mematikan
rokoknya, mengambil kertas tersebut, dan berjalan ke arah tempat tidur.
“Tuliskan angka ini di cek milikmu dan berikan aku surat kontrak tersebut,”
katanya dengan penuh yakin, walaupun di dalam hatinya ia juga merasa bersalah
akan perjanjian ini.
Perempuan itu mengambil tas
miliknya, mengeluarkan sebuah map dan buku cek yang ia miliki. Ia memberikan
map tersebut kepada Toni, lalu ia mulai menuliskan sejumlah angka di dalam cek miliknya.
Sedangkan Toni membuka map tersebut
dan melihat ada selembar kertas yang penuh dengan tulisan. Toni sudah melihat
ini berkali-kali, bahkan isinya begitu terpatri di dalam otaknya, ia pun sudah
ingat semua hal yang tertulis di dalamnya. Langsung ia melihat ke bagian kanan
bawah, bagian yang terlihat kosong, hanya ada garis di sana. Toni langsung
menggoreskan pena yang ia ambil dari meja dan menandatangani bagian tersebut.
‘Toni Rutagawa’ terbubuh di bawah tanda tangannya. “Apakah ini cukup?” tanya
Toni kepada perempuan itu sambil menunjukkan kertas kontrak tersebut.
Perempuan itu melihat dan
mengatakan, “Baik, bagus sekali. Dan ini adalah DP untukmu.” Perempuan itu
menyerahkan cek tersebut. “Senang dapat bekerja sama denganmu, Toni.”
“Asal kalian tidak membuat kedua
putriku terluka.” Raut muka Toni berubah menjadi begitu khawatir sekaligus
tidak mau memaafkan.
“Tenang saja, Rara dan Tata pasti
akan aman. Kami yakin akan hal itu.” Perempuan itu kemudian mengambil handphone miliknya, mencari-cari nomor
telepon tertentu dan menghubunginya. Begitu tersambung, ia langsung berkata,
“Semua sudah siap, Pak. Ia sudah tanda tangan dan tidak ada yang perlu
dikhawatirkan lagi.” Setelah mendengar telepon dari sana beberapa saat, ia
menutup handphone miliknya. “Mulai
besok, Rara dan Tata akan mengalami hari yang berbeda,” katanya seraya melihat
ke arah Toni.
Rara,
Tata. Semoga kalian baik-baik saja. Maafkan Papa yang harus melakukan ini demi
keluarga kita.
1 comments:
belum keluar lagi bab 2nya??? hahahahaha
Posting Komentar