Menjauh, aku semakin
menjauh dari kota tempat tinggalku. Aku tidak membawa apa-apa, tidak sempat ke
asramaku untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak sempat mengatakan kepada
teman-temanku kalau sebenarnya ada Elvraz dan juga Dran di dunia ini. Tapi aku
tidak memerlukan semua itu, aku ingin tahu lebih jauh mengenai ras lain yang
ada di dunia ini. Aku percaya, kalau semua ras yang selalu diceritakan sebagai
mitos di sekolah-sekolah bahkan di kampusku, itu semua nyata dan ada di antara
kita tanpa kita ketahui.
Kami menaiki bus umum yang menuju ke
arah pedesaan, tempat yang sama sekali tidak aku ketahui. Begitu kami sampai di
halte bus terakhir, kami turun dari bus dan melihat hutan yang besar di hadapan
kami. Aku merasa tidak enak karena tidak membawa apa-apa, sedangkan Tatsu dan
Norm membawa tas yang cukup berat, seakan mereka ingin pindah rumah dan tidak
akan kembali lagi ke rumah mereka. “Apakah ada yang perlu kubawakan?” tanyaku
pada Norm dan Tatsu dengan niat ingin membantu.
“Tidak perlu! Aku tidak mau barangku
disentuh oleh manusia!” seru Norm seraya memanggul tasnya dan membuang mukanya
dariku.
Omongan Norm membuat hatiku sakit,
pedih rasanya. Aku melihat Tatsu sedang membetulkan barang bawaannya, dan
mempersiapkan sesuatu. Aku mendekatinya ingin membantunya.
“Tidak perlu. Aku bisa semuanya,” kata Tatsu sebelum aku sempat berkata apapun. Aku jadi semakin bingung. “Kau bisa memakai senjata?”
“A—Apa?”
Tatsu kemudian membuka telapak
tangan kanannya, dari pergelangan tangannya terlihat ada yang makin menonjol,
kemudian merobek kulit dan dagingnya hingga terlihat tulangnya. Aku hampir
tidak percaya, tulangnya keluar dengan sendirinya, seakan tumbuh dengan
sendirinya. Aku hampir tidak tahan melihat daging yang terkoyak seperti itu,
membuat perutku ngilu rasanya, tapi aku penasaran dengan apa yang Tatsu
lakukan, apakah ini kemampuan semua Elvraz? Keinginan itu mengalahkan perasaan
geli, ngilu, dan jijik akan apa yang aneh dimataku. Akhirnya seluruh tulang itu
keluar, Tatsu mengambilnya dengan tangan satunya lagi dan memberikannya padaku.
“Ambil,” katanya kepadaku.
Aku mengambilnya dan aku dapat
merasakan hangatnya tulang, dan aku merasa tulang tersebut sedikit lengket.
Jijik, ya aku merasa jijik, tapi aku sangat penasaran dengan apa saja yang terjadi
dengan semuanya ini. Aku terus menariknya, menarik, menarik, seakan-akan tulang
itu terus tumbuh dan tidak berhenti. Sampai akhirnya tulang tersebut lebih
panjang dari lenganku, baru aku dapat melihat ujungnya. Ternyata tulang itu
berbentuk pedang bermata dua yang sangat tajam.
“Cukup?” tanya Tatsu kepadaku. Aku
tidak dapat mengatakan apa-apa karena dibuat kaget olehnya. Kemudian Tatsu
menoleh ke arah Norm. “Kau yakin tidak mau menyatukan barang-barang ini?”
“Aku tidak mau barangku berada satu
tempat dengan barang milik manusia. Lagipula ini sekalian latihan,” jawab Norm
ketus.
Tatsu langsung mengeluarkan sebuah
benda kecil, sebesar biji jeruk, dan mengarahkannya ke barang-barang yang ada
di depannya. Seketika, dari benda tersebut keluar sinar kecil yang langsung
menyinari seluruh barang itu dan membuat barang itu tiba-tiba hilang, kemudian
ia memasukkan benda tersebut ke dalam kantung celananya. Aku langsung kaget dan
bingung. “Kau…menghilangkan semuanya?” tanyaku kaget.
“Kusimpan.”
Aku semakin bingung. “Kenapa kau
harus membawanya dulu? Kenapa tidak langsung disimpan di rumah saja jadi tidak
perlu berat-berat kita ke sini?”
“Agar tidak dicurigai.”
“Tunggu, aku semakin tidak mengerti
maksudnya.”
Tatsu menghela napas. “Kau pikir
tidak aneh kalau kita dari kota besar pergi ke pedesaan tanpa membawa barang
apapun? Apa kau tidak berpikir kalau mereka akan menganggap kita aneh dan jalan
menuju tempatku akan disadari oleh manusia?”
Aku tidak berani bertanya kepadanya
lagi, tapi setidaknya aku jadi lebih mengerti mengenai upaya Tatsu sendiri.
Upayanya agar kondisi Elvraz yang tetap tersembunyi bersama dengan kondisi
ras-ras lain untuk tetap tersembunyi. Tapi kenapa mereka harus bersembunyi?
Kenapa mereka tidak tinggal bersama-sama dengan manusia? Kenapa mereka harus
menjauh dari manusia? Semakin banyak pertanyaan muncul dalam benakku, tapi aku
tidak berani untuk bertanya, aku harus mencari tahu jawabannya sendiri.
Kami kemudian segera berjalan menuju
ke dalam hutan. Aku membawa pedang yang terbuat dari tulang Tatsu, Tatsu tidak
membawa apa-apa, sedangkan Norm terlihat membawa banyak barang dan tas nya pun
terlihat cukup tinggi, entah apa yang dibawanya.
Inilah dia, langkah pertamaku,
langkah pertama menuju dunia yang tidak pernah dijamah manusia, dunia Elvraz.
Kami terus berjalan ke dalam hutan,
semakin lama semakin dalam. Jalanannya tidak mudah, banyak batu, akar pohon,
daun-daun yang menghalangi, bahkan serangga-serangga yang menggangu. Aku sempat
jatuh terjerembab karena pohon, terjebak dengan lumpur, bahkan terikat oleh
dahan-dahan yang menghalangi jalan. Beberapa kali aku dibantu oleh Tatsu,
beberapa kali juga aku berusaha sendiri agar tidak menghambat yang lain.
Entah sudah berapa lama kami
berjalan, aku selalu berada di tempat paling belakang, dan aku merasa
kelelahan, sungguh lelah. Aku tidak kuat lagi berjalan. “Tu…Tunggu,” kataku
dengan nafas yang tersengal-sengal.
Aku melihat Tatsu langsung berjalan
ke arahku, sementara Norm hanya berdiri diam di depan. Tatsu kemudian memberiku
botol minum, aku langsung menenggaknya. “Jangan langsung minum banyak,” kata
Tatsu. “Kita akan berjalan sedikit lagi baru kita akan beristirahat. Sebisa
mungkin kita menunggu matahari terbenam.” Lalu Tatsu berjalan ke depan ke arah
Norm. Aku membawa botol minum itu seraya masih memegang pedang tulang itu.
Hari kemudian mulai memasuki senja,
tidak ada lagi matahari yang menyengat, hanya ada sinar senja yang nyaman di
badan. Tatsu segera membersihkan rumput di sekitar, membuatnya setidaknya rata,
lalu menaruh batu-batu yang cukup besar di sana, cukup untuk 3 orang. Ia
menyuruhku duduk di batu itu, yang memang aku sangat lelah dan aku langsung
saja duduk di batu tersebut. Tatsu mulai pergi mengumpulkan kayu untuk dibakar,
sedangkan Norm pergi mencari makanan. Aku, aku hanya duduk diam karena terlalu
lelah, aku menaruh pedangku disampingku dan mengembalikan Tatsu botol minum
yang diberikannya kepadaku. Ia langsung menyimpannya dalam benda kecil itu.
Malam dengan cepat datang, seketika
hari sudah malam. Aku ingin tidur, tetapi tidak bisa karena aku tidak terbiasa
tidur di luar, apalagi ada banyak nyamuk. Aku digigiti di mana-mana. Tatsu
memberiku sebuah daun. Aku mengambilnya dengan bingung.
“Oleskan itu, nyamuk akan pergi,”
katanya singkat.
Aku langsung mengoleskan daun tersebut,
dan memang benar, nyamuk tidak ada lagi yang menggigitku. Aku bisa cukup
tenang. Kami mulai menyantap makanan yang diburu oleh Norm, ada kelinci
panggang, juga beberapa buah-buahan. Selagi aku makan, Tatsu tidak ikut makan
dengan kami. Sedangkan Norm makan dengan lahap. Bahkan ia menghabiskan 5
kelinci. “Kau tidak makan, Tatsu?” tanyaku kepadanya.
“Aku tidak lapar.”
Aku jadi tidak enak hati, sehingga
nafsu makanku pun menurun. Aku hanya makan 1 daging kelinci dan beberapa buah.
Aku terlalu merepotkan mereka, tidak ada yang dapat kulakukan. Aku sangat
payah.
Tatsu kemudian memberiku dan Norm
kantung tidur, agar kami bisa tidur di rerumputan dan tidak terganggu serangga.
Tapi Tatsu sama sekali tidak terlihat akan tidur. Ia bilang bahwa dia akan
berjaga-jaga agar tidak ada yang mengganggu atau menyerang kami semua. Aku
tidak dapat membantahnya, jadi aku berusaha tidur walaupun sulit.
Setelah aku tidur sebentar, aku
dibangunkan Tatsu dan Norm yang sudah berbenah, bahkan Norm sudah rapi. Aku segera
bangun, mengambil pedangku dan mulai mengikuti Tatsu dan Norm yang mulai
berjalan.
Begitu hari sudah siang, kami
berhenti sebentar untuk memulihkan tenaga dan makan siang. “Kalau manusia ini
tidak ada, kita sudah sampai di tempat Elvraz daritadi,” kata Norm selagi
memakan buahnya.
Mendengar itu, aku langsung berkecil
hati. Apakah aku yang menyebabkan mereka menjadi lamban? Apakah aku sama sekali
tidak berguna bagi mereka? Apakah aku hanya beban saja? Pernyataan Norm seakan
bertanya kepada Tatsu, ‘Untuk apa sih membawa manusia itu ikut serta?’ dan itu
membuatku semakin sedih. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mereka.
“Kira-kira, berapa jauh lagi agar
kita sampai ke Elvraz?” tanyaku setidaknya memecahkan suasana yang tidak nyaman
ini.
“Besok siang,” jawab Tatsu. Segera
Tatsu berdiri, kemudian melihat sekeliling.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia kemudian berjalan ke belakangku,
berusaha melihat lebih dekat ke sesuatu yang tidak dapat kulihat. “Hanya
macan.”
Macan?! Jadi benar-benar ada macan
di hutan ini?!! Aku mulai takut, resah, tidak tenang. Aku tidak dapat berkata
apa-apa, keringat dinginku mulai keluar. Aku benar-benar ketakutan. Tatsu dan
Norm hanya duduk saja dengan santai, sedangkan aku, aku bisa mati kutu dan
tidak bergerak di sini dengan adanya macan di sekitar kami.
“Hanya macan saja kau sudah takut,
bagaimana kau dapat melawan Dran?” tanya Norm sinis.
Tapi memang, bagaimana aku dapat
melawan Dran yang lebih menyeramkan daripada macan seandainya aku saja takut
dengan adanya macan. “Macan itu tidak akan menyerang kalau kau tidak
mengganggunya,” kata Tatsu. Tapi tetap saja aku takut.
Tidak lama, Norm berkata, “Sayang
sekali, macan tersebut sudah pergi.”
Langsung aku menghela napas lega,
keringatku mulai berkurang.
Tatsu langsung berdiri. “Ayo pergi,”
katanya.
Kami segera ikut berdiri dan
berjalan kembali. Kami berjalan hingga senja, dan bermalam lagi di dalam hutan,
lalu bangun dan berjalan lagi.
Tepat siang hari, Tatsu berhenti di
suatu pohon. Begitu kuperhatikan baik-baik, pohon ini memiliki lubang yang
sangat khas. Lubang yang tidak mencolok, tapi kalau dilihat dengan seksama,
lubang tersebut berbeda dengan lubang yang terbentuk pada pohon biasanya. Tatsu
mengeluarkan tulang dari pergelangan tangan kanannya, lalu memasukkan tulang
tersebut ke dalam lubang itu. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, tapi
setelah beberapa saat ia memasukkan tulang tersebut, ada suatu bunyi yang
terdengar. Tatsu segera mengeluarkan tulangnya dari lubang itu, kemudian di
tanah terdapat lubang yang cukup terang. Tatsu masuk ke dalamnya, diikuti oleh
Norm, kemudian aku. Ternyata ini merupakan sebuah jalan tersembumnyi. Aku terus
mengikutinya sampai aku merasa kalau jalan itu mulai naik, lalu terlihat cahaya
yang menyilaukan di ujung dari jalan tersebut. Tatsu, Norm, dan aku keluar dari
jalan tersembunyi itu, dan kami melihat, mungkin lebih tepatnya aku, sesuatu
yang amat menakjubkan. Sebuah kota yang belum pernah kulihat sebelumnya ada di
hadapanku sekarang.
Kota itu tidak terbuat dari batu,
atau mesin, tapi lebih seperti menyatu dengan hutan itu sendiri. Semuanya
terlihat hijau, coklat, tapi sangat segar. Keadaannya pun tidak gelap seperti
di dalam hutan, tetapi terang dengan cahaya matahari yang menyinari masuk ke
dalam. Walaupun tertutup oleh pohon-pohon yang tinggi, cahaya matahari tetap
dapat masuk dengan baik seakan matahari tersebut menjadi lampu yang sangat
besar bagi kota tersebut. Rumah mereka bukanlah dari batu bata, melainkan dari
pohon yang sangat besar. Di tengah-tengah kota tersebut, terdapat pohon raksasa
yang dahan-dahannya menaungi seluruh kota dan tetap membuat kota itu
terlindung, tetapi daun-daunnya tidak menghalangi sinar matahari, malah
meneruskannya dan membuatnya lebih terang. Dari pohon raksasa ini terdapat
beberapa lubang yang sepertinya menjadi tempat tinggal orang-orang.
Tatsu dan Norm langsung berjalan
melalui jalan-jalan kota yang ditata dengan rapi. Tidak ada mobil, tidak ada
motor, tidak ada polusi, semuanya berjalan kaki, tidak menggunakan mesin,
semuanya menggunakan tangan, tidak ada yang menggunakan bantuan mesin. Selagi
berjalan, aku melihat ada seseorang di dalam rumah sedang membuat sesuatu dari
kayu. Apa yang mereka buat, merekalah yang memakainya. Keadaan seperti inilah
yang selalu didambakan oleh manusia, di mana semuanya damai, tidak ada
pertikaian.
Selagi berjalan di tengah-tengah
kota, banyak sekali yang menyapa kami. Semuanya selalu membungkuk. Tiba-tiba
ada orang yang berlari menuju arah kami. “Tatsu!” serunya. Begitu mendekati
kami, ia langsung merangkul Tatsu. “Akhirnya kau datang juga. Kami sudah
menunggu lama sekali sampai kau datang.”
“Maaf sudah menunggu lama, Ben,”
balas Tatsu.
Ternyata orang inilah yang memberi
pesan kepada Tatsu. Setelah kuperhatikan baik-baik, semua muka Elvraz hampir
sama. Mereka memiliki daun telinga yang runcing, hidung yang panjang, dagu yang
amat maskulin untuk pria, sedangkan begitu feminin bagi para wanita. Mereka
semua sangatlah tampan dan cantik, tidak ada jerawat, tidak ada keriput yang
muncul dari antara mereka. Mereka semua muda, tidak ada yang menjadi tua.
Bahkan aku tidak melihat orang tua di sini. Semakin kuperhatikan, jari-jari
mereka lebih panjang dari manusia, rambut mereka semua panjang dan lurus untuk
wanita, sedangkan pria rambut mereka terkesan pendek, tetapi selalu berkilau.
Rambut mereka yang berkilau inilah yang didambakan banyak wanita manusia.
Aku merasa amat senang, aku berada
di dunia Elvraz, di mana aku menemukan bahwa manusia tidak tinggal sendiri. Apa
yang aku temukan benar-benar membuatku senang.
“Siapa dia?” tanya Ben kepada Tatsu
dan memecah lamunanku yang sedang melihat-lihat kota ini.
“Namanya Elizabeth, panggilannya
Elly, ia manusia,” jawab Tatsu singkat.
“Ma—MANUSIA!!! Kau membawa manusia
ke sini?!!”
Aku merasakan kalau semua orang
langsung menoleh ke arah kami. Aku jadi semakin tidak nyaman. Pertama Norm,
selanjutnya Ben, tidak ada yang menerimaku.
“Ia tamuku,” balas Tatsu dengan
dingin.
Ben langsung tidak berkata apa-apa
lagi, dan kemudian ia berjalan di depan kami, memimpin kami menuju ke pohon
yang besar tersebut. Semakin mendekat ke pohon raksasa itu, semakin aku merasa
kalau aku sangatlah kecil di hadapan pohon raksasa tersebut. Entah tempat apa
ini, tapi aku merasakan kalau tempat ini merupakan tempat tinggal para penguasa
dunia ini. Sebelum masuk, aku diminta oleh salah seorang yang berdiri di
samping gerbang untuk menaruh senjataku di sana. Aku langsung menaruh pedang
itu. Rasanya tidak nyaman, aku pun tidak cocok untuk memakai pedang.
Setelah semuanya siap, pintu gerbang
yang terbuat dari kayu dan pohon dibuka oleh mereka. Kami segera melangkah
masuk ke dalamnya dan berjalan terus ke dalam. Di dalam pohon itu udaranya
terasa sejuk, semuanya alami, baik tangga, lantai, semua terbuat dari kayu,
tidak ada yang terbuat dari besi. Ingin sekali aku menanyakan kepada Tatsu kayu
apa semua ini, tapi aku tidak bisa karena waktunya tidak tepat. Aku melihat
kalau Ben terus berbisik kepada Tatsu di depan, sedangkan Norm tidak mau
berjalan beriringan denganku. Aku merasa kesepian karena baru kali ini aku dikucilkan.
Kami kemudian menaiki tangga yang
besar terbuat dari kayu, menuju sebuah pintu yang besar dijaga oleh 2 penjaga.
Kami menunggu sebentar di depan pintu tersebut, menunggu untuk dibukakan.
Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa ada begitu banyak penjaga? Kenapa banyak
sekali ruangan dan lorong? Apakah ini penjara? Apa aku akan dipenjarakan? Tapi
kalau aku dipenjarakan, tidak mungkin Tatsu ikut juga ke tempat ini.
Begitu pintu besar itu terbuka, aku
melihat ada sebuah karpet merah, di mana ada penjaga yang berjaga-jaga di
samping sisi karpet tersebut dan terus sampai ke ujung karpet itu. Jarak antara
penjaga yang di depannya mungkin sekitar 3 meter, sedangkan jarak antara
penjaga yang ada di sampingnya sekitar 5 meter. Kami berjalan masuk menuju ke
tangga yang besar, mungkin sekitar 3 anak tangga. Di anak tangga paling atas,
terdapat sebuah takhta dengan seseorang duduk di takhta tersebut dan dijaga
oleh 2 orang penjaga yang siap membunuh siapa saja yang berusaha mendekatinya.
Baru saja kami masuk, orang yang
duduk di takhta itu berdiri dan berjalan ke arah kami. Bajunya begitu indah,
seperti gaun yang begitu mewah, berwarna hijau sehijau daun muda yang terang
dan menyegarkan mata. Tidak ada perhiasan yang terlalu mewah yang dimilikinya,
hanya gaun itu saja yang menyatakan bahwa ia adalah orang yang sangat penting.
Sewaktu ia sudah dekat, ia langsung
merentangkan tangannya, memeluk Tatsu dan mengatakan, “Tatsu! Akhirnya kau
pulang juga.” Lalu ia melihat ke arah Norm dan memeluknya juga. “Norm! Kau
cepat sekali menjadi besar?” Kemudian ia melihat ke arahku. “Dan…siapakah
kamu?”
Tatsu langsung menjawab, “Ia adalah
manusia, Ratuku. Namanya Elizabeth.”
RATU?!! I—Ia adalah Ratu?!! Aku
pikir ia adalah orang yang dipandang seperti bangsawan, tapi aku tidak menyangka
kalau ia adalah seorang Ratu yang berarti adalah pemimpin Elvraz. Dan ia
melihatku, aku yang adalah manusia. Aku langsung tertegun, bingung dengan apa
yang harus aku lakukan.
“Ah, Elizabeth,” beliau lalu
menyodorkan tangannya. “Senang berkenalan denganku. Namaku Girani.”
Aku dengan kaku, ikut menyodorkan
tanganku, lalu kami bersalaman. Sungguh, aku sangat kaget juga takut melihat
seorang Ratu dari bangsa Elvraz begitu dekat, namun sangat baik hati kepadaku.
“Selamat datang di dunia Elvraz.”
0 comments:
Posting Komentar