Rabu, 09 Oktober 2013

Thare: Bab 3-Elvraz

Menjauh, aku semakin menjauh dari kota tempat tinggalku. Aku tidak membawa apa-apa, tidak sempat ke asramaku untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak sempat mengatakan kepada teman-temanku kalau sebenarnya ada Elvraz dan juga Dran di dunia ini. Tapi aku tidak memerlukan semua itu, aku ingin tahu lebih jauh mengenai ras lain yang ada di dunia ini. Aku percaya, kalau semua ras yang selalu diceritakan sebagai mitos di sekolah-sekolah bahkan di kampusku, itu semua nyata dan ada di antara kita tanpa kita ketahui.
            Kami menaiki bus umum yang menuju ke arah pedesaan, tempat yang sama sekali tidak aku ketahui. Begitu kami sampai di halte bus terakhir, kami turun dari bus dan melihat hutan yang besar di hadapan kami. Aku merasa tidak enak karena tidak membawa apa-apa, sedangkan Tatsu dan Norm membawa tas yang cukup berat, seakan mereka ingin pindah rumah dan tidak akan kembali lagi ke rumah mereka. “Apakah ada yang perlu kubawakan?” tanyaku pada Norm dan Tatsu dengan niat ingin membantu.
            “Tidak perlu! Aku tidak mau barangku disentuh oleh manusia!” seru Norm seraya memanggul tasnya dan membuang mukanya dariku.
            Omongan Norm membuat hatiku sakit, pedih rasanya. Aku melihat Tatsu sedang membetulkan barang bawaannya, dan mempersiapkan sesuatu. Aku mendekatinya ingin membantunya.

            “Tidak perlu. Aku bisa semuanya,” kata Tatsu sebelum aku sempat berkata apapun. Aku jadi semakin bingung. “Kau bisa memakai senjata?”
            “A—Apa?”
            Tatsu kemudian membuka telapak tangan kanannya, dari pergelangan tangannya terlihat ada yang makin menonjol, kemudian merobek kulit dan dagingnya hingga terlihat tulangnya. Aku hampir tidak percaya, tulangnya keluar dengan sendirinya, seakan tumbuh dengan sendirinya. Aku hampir tidak tahan melihat daging yang terkoyak seperti itu, membuat perutku ngilu rasanya, tapi aku penasaran dengan apa yang Tatsu lakukan, apakah ini kemampuan semua Elvraz? Keinginan itu mengalahkan perasaan geli, ngilu, dan jijik akan apa yang aneh dimataku. Akhirnya seluruh tulang itu keluar, Tatsu mengambilnya dengan tangan satunya lagi dan memberikannya padaku. “Ambil,” katanya kepadaku.
            Aku mengambilnya dan aku dapat merasakan hangatnya tulang, dan aku merasa tulang tersebut sedikit lengket. Jijik, ya aku merasa jijik, tapi aku sangat penasaran dengan apa saja yang terjadi dengan semuanya ini. Aku terus menariknya, menarik, menarik, seakan-akan tulang itu terus tumbuh dan tidak berhenti. Sampai akhirnya tulang tersebut lebih panjang dari lenganku, baru aku dapat melihat ujungnya. Ternyata tulang itu berbentuk pedang bermata dua yang sangat tajam.
            “Cukup?” tanya Tatsu kepadaku. Aku tidak dapat mengatakan apa-apa karena dibuat kaget olehnya. Kemudian Tatsu menoleh ke arah Norm. “Kau yakin tidak mau menyatukan barang-barang ini?”
            “Aku tidak mau barangku berada satu tempat dengan barang milik manusia. Lagipula ini sekalian latihan,” jawab Norm ketus.
            Tatsu langsung mengeluarkan sebuah benda kecil, sebesar biji jeruk, dan mengarahkannya ke barang-barang yang ada di depannya. Seketika, dari benda tersebut keluar sinar kecil yang langsung menyinari seluruh barang itu dan membuat barang itu tiba-tiba hilang, kemudian ia memasukkan benda tersebut ke dalam kantung celananya. Aku langsung kaget dan bingung. “Kau…menghilangkan semuanya?” tanyaku kaget.
            “Kusimpan.”
            Aku semakin bingung. “Kenapa kau harus membawanya dulu? Kenapa tidak langsung disimpan di rumah saja jadi tidak perlu berat-berat kita ke sini?”
            “Agar tidak dicurigai.”
            “Tunggu, aku semakin tidak mengerti maksudnya.”
            Tatsu menghela napas. “Kau pikir tidak aneh kalau kita dari kota besar pergi ke pedesaan tanpa membawa barang apapun? Apa kau tidak berpikir kalau mereka akan menganggap kita aneh dan jalan menuju tempatku akan disadari oleh manusia?”
            Aku tidak berani bertanya kepadanya lagi, tapi setidaknya aku jadi lebih mengerti mengenai upaya Tatsu sendiri. Upayanya agar kondisi Elvraz yang tetap tersembunyi bersama dengan kondisi ras-ras lain untuk tetap tersembunyi. Tapi kenapa mereka harus bersembunyi? Kenapa mereka tidak tinggal bersama-sama dengan manusia? Kenapa mereka harus menjauh dari manusia? Semakin banyak pertanyaan muncul dalam benakku, tapi aku tidak berani untuk bertanya, aku harus mencari tahu jawabannya sendiri.
            Kami kemudian segera berjalan menuju ke dalam hutan. Aku membawa pedang yang terbuat dari tulang Tatsu, Tatsu tidak membawa apa-apa, sedangkan Norm terlihat membawa banyak barang dan tas nya pun terlihat cukup tinggi, entah apa yang dibawanya.
            Inilah dia, langkah pertamaku, langkah pertama menuju dunia yang tidak pernah dijamah manusia, dunia Elvraz.
            Kami terus berjalan ke dalam hutan, semakin lama semakin dalam. Jalanannya tidak mudah, banyak batu, akar pohon, daun-daun yang menghalangi, bahkan serangga-serangga yang menggangu. Aku sempat jatuh terjerembab karena pohon, terjebak dengan lumpur, bahkan terikat oleh dahan-dahan yang menghalangi jalan. Beberapa kali aku dibantu oleh Tatsu, beberapa kali juga aku berusaha sendiri agar tidak menghambat yang lain.
            Entah sudah berapa lama kami berjalan, aku selalu berada di tempat paling belakang, dan aku merasa kelelahan, sungguh lelah. Aku tidak kuat lagi berjalan. “Tu…Tunggu,” kataku dengan nafas yang tersengal-sengal.
            Aku melihat Tatsu langsung berjalan ke arahku, sementara Norm hanya berdiri diam di depan. Tatsu kemudian memberiku botol minum, aku langsung menenggaknya. “Jangan langsung minum banyak,” kata Tatsu. “Kita akan berjalan sedikit lagi baru kita akan beristirahat. Sebisa mungkin kita menunggu matahari terbenam.” Lalu Tatsu berjalan ke depan ke arah Norm. Aku membawa botol minum itu seraya masih memegang pedang tulang itu.
            Hari kemudian mulai memasuki senja, tidak ada lagi matahari yang menyengat, hanya ada sinar senja yang nyaman di badan. Tatsu segera membersihkan rumput di sekitar, membuatnya setidaknya rata, lalu menaruh batu-batu yang cukup besar di sana, cukup untuk 3 orang. Ia menyuruhku duduk di batu itu, yang memang aku sangat lelah dan aku langsung saja duduk di batu tersebut. Tatsu mulai pergi mengumpulkan kayu untuk dibakar, sedangkan Norm pergi mencari makanan. Aku, aku hanya duduk diam karena terlalu lelah, aku menaruh pedangku disampingku dan mengembalikan Tatsu botol minum yang diberikannya kepadaku. Ia langsung menyimpannya dalam benda kecil itu.
            Malam dengan cepat datang, seketika hari sudah malam. Aku ingin tidur, tetapi tidak bisa karena aku tidak terbiasa tidur di luar, apalagi ada banyak nyamuk. Aku digigiti di mana-mana. Tatsu memberiku sebuah daun. Aku mengambilnya dengan bingung.
            “Oleskan itu, nyamuk akan pergi,” katanya singkat.
            Aku langsung mengoleskan daun tersebut, dan memang benar, nyamuk tidak ada lagi yang menggigitku. Aku bisa cukup tenang. Kami mulai menyantap makanan yang diburu oleh Norm, ada kelinci panggang, juga beberapa buah-buahan. Selagi aku makan, Tatsu tidak ikut makan dengan kami. Sedangkan Norm makan dengan lahap. Bahkan ia menghabiskan 5 kelinci. “Kau tidak makan, Tatsu?” tanyaku kepadanya.
            “Aku tidak lapar.”
            Aku jadi tidak enak hati, sehingga nafsu makanku pun menurun. Aku hanya makan 1 daging kelinci dan beberapa buah. Aku terlalu merepotkan mereka, tidak ada yang dapat kulakukan. Aku sangat payah.
            Tatsu kemudian memberiku dan Norm kantung tidur, agar kami bisa tidur di rerumputan dan tidak terganggu serangga. Tapi Tatsu sama sekali tidak terlihat akan tidur. Ia bilang bahwa dia akan berjaga-jaga agar tidak ada yang mengganggu atau menyerang kami semua. Aku tidak dapat membantahnya, jadi aku berusaha tidur walaupun sulit.
            Setelah aku tidur sebentar, aku dibangunkan Tatsu dan Norm yang sudah berbenah, bahkan Norm sudah rapi. Aku segera bangun, mengambil pedangku dan mulai mengikuti Tatsu dan Norm yang mulai berjalan.
            Begitu hari sudah siang, kami berhenti sebentar untuk memulihkan tenaga dan makan siang. “Kalau manusia ini tidak ada, kita sudah sampai di tempat Elvraz daritadi,” kata Norm selagi memakan buahnya.
            Mendengar itu, aku langsung berkecil hati. Apakah aku yang menyebabkan mereka menjadi lamban? Apakah aku sama sekali tidak berguna bagi mereka? Apakah aku hanya beban saja? Pernyataan Norm seakan bertanya kepada Tatsu, ‘Untuk apa sih membawa manusia itu ikut serta?’ dan itu membuatku semakin sedih. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mereka.
            “Kira-kira, berapa jauh lagi agar kita sampai ke Elvraz?” tanyaku setidaknya memecahkan suasana yang tidak nyaman ini.
            “Besok siang,” jawab Tatsu. Segera Tatsu berdiri, kemudian melihat sekeliling.
            “Ada apa?” tanyaku.
            Ia kemudian berjalan ke belakangku, berusaha melihat lebih dekat ke sesuatu yang tidak dapat kulihat. “Hanya macan.”
            Macan?! Jadi benar-benar ada macan di hutan ini?!! Aku mulai takut, resah, tidak tenang. Aku tidak dapat berkata apa-apa, keringat dinginku mulai keluar. Aku benar-benar ketakutan. Tatsu dan Norm hanya duduk saja dengan santai, sedangkan aku, aku bisa mati kutu dan tidak bergerak di sini dengan adanya macan di sekitar kami.
            “Hanya macan saja kau sudah takut, bagaimana kau dapat melawan Dran?” tanya Norm sinis.
            Tapi memang, bagaimana aku dapat melawan Dran yang lebih menyeramkan daripada macan seandainya aku saja takut dengan adanya macan. “Macan itu tidak akan menyerang kalau kau tidak mengganggunya,” kata Tatsu. Tapi tetap saja aku takut.
            Tidak lama, Norm berkata, “Sayang sekali, macan tersebut sudah pergi.”
            Langsung aku menghela napas lega, keringatku mulai berkurang.
            Tatsu langsung berdiri. “Ayo pergi,” katanya.
            Kami segera ikut berdiri dan berjalan kembali. Kami berjalan hingga senja, dan bermalam lagi di dalam hutan, lalu bangun dan berjalan lagi.
            Tepat siang hari, Tatsu berhenti di suatu pohon. Begitu kuperhatikan baik-baik, pohon ini memiliki lubang yang sangat khas. Lubang yang tidak mencolok, tapi kalau dilihat dengan seksama, lubang tersebut berbeda dengan lubang yang terbentuk pada pohon biasanya. Tatsu mengeluarkan tulang dari pergelangan tangan kanannya, lalu memasukkan tulang tersebut ke dalam lubang itu. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, tapi setelah beberapa saat ia memasukkan tulang tersebut, ada suatu bunyi yang terdengar. Tatsu segera mengeluarkan tulangnya dari lubang itu, kemudian di tanah terdapat lubang yang cukup terang. Tatsu masuk ke dalamnya, diikuti oleh Norm, kemudian aku. Ternyata ini merupakan sebuah jalan tersembumnyi. Aku terus mengikutinya sampai aku merasa kalau jalan itu mulai naik, lalu terlihat cahaya yang menyilaukan di ujung dari jalan tersebut. Tatsu, Norm, dan aku keluar dari jalan tersembunyi itu, dan kami melihat, mungkin lebih tepatnya aku, sesuatu yang amat menakjubkan. Sebuah kota yang belum pernah kulihat sebelumnya ada di hadapanku sekarang.
            Kota itu tidak terbuat dari batu, atau mesin, tapi lebih seperti menyatu dengan hutan itu sendiri. Semuanya terlihat hijau, coklat, tapi sangat segar. Keadaannya pun tidak gelap seperti di dalam hutan, tetapi terang dengan cahaya matahari yang menyinari masuk ke dalam. Walaupun tertutup oleh pohon-pohon yang tinggi, cahaya matahari tetap dapat masuk dengan baik seakan matahari tersebut menjadi lampu yang sangat besar bagi kota tersebut. Rumah mereka bukanlah dari batu bata, melainkan dari pohon yang sangat besar. Di tengah-tengah kota tersebut, terdapat pohon raksasa yang dahan-dahannya menaungi seluruh kota dan tetap membuat kota itu terlindung, tetapi daun-daunnya tidak menghalangi sinar matahari, malah meneruskannya dan membuatnya lebih terang. Dari pohon raksasa ini terdapat beberapa lubang yang sepertinya menjadi tempat tinggal orang-orang.
            Tatsu dan Norm langsung berjalan melalui jalan-jalan kota yang ditata dengan rapi. Tidak ada mobil, tidak ada motor, tidak ada polusi, semuanya berjalan kaki, tidak menggunakan mesin, semuanya menggunakan tangan, tidak ada yang menggunakan bantuan mesin. Selagi berjalan, aku melihat ada seseorang di dalam rumah sedang membuat sesuatu dari kayu. Apa yang mereka buat, merekalah yang memakainya. Keadaan seperti inilah yang selalu didambakan oleh manusia, di mana semuanya damai, tidak ada pertikaian.
            Selagi berjalan di tengah-tengah kota, banyak sekali yang menyapa kami. Semuanya selalu membungkuk. Tiba-tiba ada orang yang berlari menuju arah kami. “Tatsu!” serunya. Begitu mendekati kami, ia langsung merangkul Tatsu. “Akhirnya kau datang juga. Kami sudah menunggu lama sekali sampai kau datang.”
            “Maaf sudah menunggu lama, Ben,” balas Tatsu.
            Ternyata orang inilah yang memberi pesan kepada Tatsu. Setelah kuperhatikan baik-baik, semua muka Elvraz hampir sama. Mereka memiliki daun telinga yang runcing, hidung yang panjang, dagu yang amat maskulin untuk pria, sedangkan begitu feminin bagi para wanita. Mereka semua sangatlah tampan dan cantik, tidak ada jerawat, tidak ada keriput yang muncul dari antara mereka. Mereka semua muda, tidak ada yang menjadi tua. Bahkan aku tidak melihat orang tua di sini. Semakin kuperhatikan, jari-jari mereka lebih panjang dari manusia, rambut mereka semua panjang dan lurus untuk wanita, sedangkan pria rambut mereka terkesan pendek, tetapi selalu berkilau. Rambut mereka yang berkilau inilah yang didambakan banyak wanita manusia.
            Aku merasa amat senang, aku berada di dunia Elvraz, di mana aku menemukan bahwa manusia tidak tinggal sendiri. Apa yang aku temukan benar-benar membuatku senang.
            “Siapa dia?” tanya Ben kepada Tatsu dan memecah lamunanku yang sedang melihat-lihat kota ini.
            “Namanya Elizabeth, panggilannya Elly, ia manusia,” jawab Tatsu singkat.
            “Ma—MANUSIA!!! Kau membawa manusia ke sini?!!”
            Aku merasakan kalau semua orang langsung menoleh ke arah kami. Aku jadi semakin tidak nyaman. Pertama Norm, selanjutnya Ben, tidak ada yang menerimaku.
            “Ia tamuku,” balas Tatsu dengan dingin.
            Ben langsung tidak berkata apa-apa lagi, dan kemudian ia berjalan di depan kami, memimpin kami menuju ke pohon yang besar tersebut. Semakin mendekat ke pohon raksasa itu, semakin aku merasa kalau aku sangatlah kecil di hadapan pohon raksasa tersebut. Entah tempat apa ini, tapi aku merasakan kalau tempat ini merupakan tempat tinggal para penguasa dunia ini. Sebelum masuk, aku diminta oleh salah seorang yang berdiri di samping gerbang untuk menaruh senjataku di sana. Aku langsung menaruh pedang itu. Rasanya tidak nyaman, aku pun tidak cocok untuk memakai pedang.
            Setelah semuanya siap, pintu gerbang yang terbuat dari kayu dan pohon dibuka oleh mereka. Kami segera melangkah masuk ke dalamnya dan berjalan terus ke dalam. Di dalam pohon itu udaranya terasa sejuk, semuanya alami, baik tangga, lantai, semua terbuat dari kayu, tidak ada yang terbuat dari besi. Ingin sekali aku menanyakan kepada Tatsu kayu apa semua ini, tapi aku tidak bisa karena waktunya tidak tepat. Aku melihat kalau Ben terus berbisik kepada Tatsu di depan, sedangkan Norm tidak mau berjalan beriringan denganku. Aku merasa kesepian karena baru kali ini aku dikucilkan.   
            Kami kemudian menaiki tangga yang besar terbuat dari kayu, menuju sebuah pintu yang besar dijaga oleh 2 penjaga. Kami menunggu sebentar di depan pintu tersebut, menunggu untuk dibukakan. Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa ada begitu banyak penjaga? Kenapa banyak sekali ruangan dan lorong? Apakah ini penjara? Apa aku akan dipenjarakan? Tapi kalau aku dipenjarakan, tidak mungkin Tatsu ikut juga ke tempat ini.
            Begitu pintu besar itu terbuka, aku melihat ada sebuah karpet merah, di mana ada penjaga yang berjaga-jaga di samping sisi karpet tersebut dan terus sampai ke ujung karpet itu. Jarak antara penjaga yang di depannya mungkin sekitar 3 meter, sedangkan jarak antara penjaga yang ada di sampingnya sekitar 5 meter. Kami berjalan masuk menuju ke tangga yang besar, mungkin sekitar 3 anak tangga. Di anak tangga paling atas, terdapat sebuah takhta dengan seseorang duduk di takhta tersebut dan dijaga oleh 2 orang penjaga yang siap membunuh siapa saja yang berusaha mendekatinya.
            Baru saja kami masuk, orang yang duduk di takhta itu berdiri dan berjalan ke arah kami. Bajunya begitu indah, seperti gaun yang begitu mewah, berwarna hijau sehijau daun muda yang terang dan menyegarkan mata. Tidak ada perhiasan yang terlalu mewah yang dimilikinya, hanya gaun itu saja yang menyatakan bahwa ia adalah orang yang sangat penting.
            Sewaktu ia sudah dekat, ia langsung merentangkan tangannya, memeluk Tatsu dan mengatakan, “Tatsu! Akhirnya kau pulang juga.” Lalu ia melihat ke arah Norm dan memeluknya juga. “Norm! Kau cepat sekali menjadi besar?” Kemudian ia melihat ke arahku. “Dan…siapakah kamu?”
            Tatsu langsung menjawab, “Ia adalah manusia, Ratuku. Namanya Elizabeth.”
            RATU?!! I—Ia adalah Ratu?!! Aku pikir ia adalah orang yang dipandang seperti bangsawan, tapi aku tidak menyangka kalau ia adalah seorang Ratu yang berarti adalah pemimpin Elvraz. Dan ia melihatku, aku yang adalah manusia. Aku langsung tertegun, bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
            “Ah, Elizabeth,” beliau lalu menyodorkan tangannya. “Senang berkenalan denganku. Namaku Girani.”
            Aku dengan kaku, ikut menyodorkan tanganku, lalu kami bersalaman. Sungguh, aku sangat kaget juga takut melihat seorang Ratu dari bangsa Elvraz begitu dekat, namun sangat baik hati kepadaku.
            “Selamat datang di dunia Elvraz.”


0 comments:

Posting Komentar